Black Steer (Closed)

20 Jul

Update: Black Steer cabang Mal Ambasador sekarang sudah tutup

Rabu siang yang panas, kami menuju Mal Ambasador untuk mengisi perut. Sebelumnya telah diputuskan bahwa makan siang kali ini akan dilaksanakan di resto Black Steer, Mal Ambasador lt. 3. Pembagian kloter keberangkatan pun harus dilakukan, karna ngga mungkin 19 orang ditampung dalam 1 mobil. Saya beserta 5 rekan yang lain, memilih Honda Civic hijau sebagai sarana transportasi kami. Sempat deg-degan juga ketika pemilihan siapa yang duduk di samping kursi pengemudi (aturan utama: yang paling ndut). “Semoga bukan gw… semoga bukan gw…”, doa saya dalam hati. Dan ternyata saudara-saudara… “kesempatan” tersebut jatuh kepada rekan lain yang lingkar badannya 11-12 sama saya πŸ™‚

Ngga tau kenapa, hari itu Casablanca macet banget. Rute MT Haryono-Ambasador yang biasa ditempuh dalam 15-20 menit saja, kali ini memakan waktu 2 kalinya. Saya mah asik-asik aja, soalnya di radio sedang diputar lagu-lagu 80an dengan sedikit sekali potongan suara penyiar. With songs like Through the Fire, Back to You, dan Heaven, how can I complain? πŸ™‚

Akhirnya, kami sampai di area parkir. Sang penunjuk jalan buru-buru mengambil komando berjalan paling depan, meluncur terus (pake eskalator, tentunya) ke lantai 4. Lho, kok lantai 4? Ya… karena dia ngga hapal letaknya dan none of us tau di mana resto tersebut berada. Pokoknya di Ambasador lah… Setelah tanya sana-sini, sampailah kami di depan resto yang terlihat eksklusif tersebut, yang ternyata terletak di lt. 3.

Masuk ke dalam resto, berasa ada di hutan. Langit-langitnya berwarna gelap, dengan hiasan tanaman merambat yang menjuntai. Kursi-kursinya bermotif zebra, dan ada pigura-pigura kecil yang memasang gambar wild life di dinding resto. Karena jumlah kami yang banyak, meja dan kursi sudah disiapkan dan diatur berjejer di tengah-tengah ruangan. Sayang banget, padahal di sekeliling kami banyak seating yg modelnya sofa, dan sebagian ada yg overlooking city view (bagian belakang Mal Ambasador). Di ujung ruangan juga ada panggung kecil dan screen projector yang (waktu itu) muter siaran MTV.

Biar gampang ngitungnya, kami “dipesankan” Lady’s Steak, steak sapi/ayam ukuran 150 g, lengkap dengan kentang goreng dan coleslaw. Masing-masing pesan minuman yang berbeda, saya sendiri waktu itu memilih jus stroberi. Makanannya datengnya rada lama, wajar juga sih, karena dia harus masak 19 porsi. Sambil menunggu, saya perhatiin orang-orang yg berdatangan, rata-rata middle-aged: ibu-ibu dengan sasakan yang tinggi dan bapak-bapak berjas. Ada juga beberapa ibu muda dengan kantong-kantong belanjaan. Oh iya, sambil menunggu juga, waiternya nyediain bun & butter. Bun-nya biasa aja, ada sedikit jejak susu dan jejak hangat (jejaknya aja, bukan hangatnya) Butter-nya jelas banget fresh from the fridge (masih ada embunnya), mana keraaaaaaaaaaas banget, boro-boro bisa dioles ke bun-nya 😦

Setelah unpleasant experience dengan bun-nya, datanglah sang main course. Wih, kecil amat? Saya ngga terlalu paham sama ukuran daging, tapi yg jelas ini mah kecil πŸ™‚ Sausnya hemaaaat banget, cuma melumuri daging aja, kayak tepung yg melumuri tempe sebelum digoreng. Ngga ada genangan sauce yang juicy dengan taburan jamur dan percikan black pepper di sana-sini. Rasa dagingnya nya biasa aja, kayaknya cuma di-marinate seadanya sebelum dipanggang. Banyak yang dapet daging merah di tengah, padahal udah jelas-jelas pesan well-done (termasuk saya). Temen yang duduk di depan saya “membuang” hampir 30% dari dagingnya karena masih merah, saya mah cuek2 aja (yah… mau gimana juga, a steak is a steak… :D) Jus stroberinya juga so-so, klo kata saya mah kurang mantep.

Walhasil, setelah makan di situ, temen-temen malah mengusulkan untuk beli gorengan, bahkan mampir di warteg belakang kantor :p Salah satu temen nyeletuk: “Mendingan ke Abuba”, diimbangi oleh celetukan sang PM: “Mendingan ke Outback”, gubraks!

Ngga tau kami yang salah mesan atau terlalu banyak yg dateng (jadi masaknya keburu-buru) atau emang rasanya kayak begitu? Anyway, klo ditanya, mau ke sini lagi ngga? Jawaban saya mah: Enggak! (klo bayar sendiri). Klo ditraktir mah, harus nurut sama bossnya πŸ˜€

Oh iya, harga Lady’s Steak tadi sekitar 55K. Harga main course lain antara 45K-100K. Minuman standar (jus dan variasinya) sekitar 17.5K. Salad dan sup sekitar 20K.

 

Black Steer Restaurant
Mal Ambasador Lt. 3
Jl. Prof. Dr. Satrio (Casablanca) No. 15
Jakarta Selatan

Advertisements

2 Responses to “Black Steer (Closed)”

  1. Chica Paramita 22 July, 2005 at 12:04 pm #

    Ealaaaah jeng Adinda, mendingan dengan uang segitu makan di American Grill yang dulunya Sizzler. Steaknya sama nggak enaknya tapi at least soup & salad bar-nya enak dan dessertnya juga lumayan. Dan AYCE pula, jadi nggak perlu mampir beli gorengan dan ke warteg lagi…Hahaha !

    Like

  2. Adinda Erisyanita 26 July, 2005 at 11:36 am #

    Kekekkeke…. Bener banget Mbak Chica.
    Untung makannya ngga pake uang pribadi, jadi ngga nyesek πŸ˜€

    Btw, ngasih rekomendasinya kok yang sama-sama ngga enak? Mbokya yg enak gitu… hehehehehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s