Sate Bandeng (Serang)

21 Oct
Sate Bandeng

Sate Bandeng

Sepulang dari perjalanan singkat kami ke Tanjung Lesung, supir bis memutuskan untuk mengambil jalur Pandeglang sebagai rute menuju Jakarta. Karena bosan (baca: ngga bisa lihat pantai lagi :p), saya memilih untuk tidur sepanjang perjalanan. Tiba-tiba saya terbangun akibat hentakan rem bis. Saya longok ke jendela, ternyata kami sudah dekat dari pintu tol Serang dan bis berhenti di pusat penjual oleh-oleh khas Serang.

Saya yang masih setengah mengantuk tidak berminat untuk ikut turun ke bawah bersama anggota rombongan yang lain. Biarlah, urusan membeli oleh-oleh saya serahkan kepada ibunda tercinta.

Selang tidak berapa lama, ibu sudah kembali membawa sekantung belanjaan berisi beberapa ekor ikan yang sudah diolah. Oooh… ini toh yang namanya Sate Bandeng (SB). Judging from the look of it, makanan ini lebih pantas disebut Bandeng Isi atau Bandeng Kodok (memakai logika yang sama dengan Ayam Kodok) daripada SB.

“Kok belinya cuma sedikit Bu?”, saya bertanya.
“Iya, soalnya kata Pak Puh (kakak ibu) rasanya ngga enak. Pak Puh sering dikasih sama tetangganya yang kerja di Serang. Ibu cuma asal beli aja, masa udah jauh-jauh ke sini ngga bawa oleh-oleh.”

Sampai di rumah, karena capek dan kekenyangan akibat makanan yang free-flow sepanjang perjalanan, saya otomatis langsung menuju tempat tidur dan SB-nya sempat terlupakan. Keesokan harinya, saya buru-buru membuka bungkusan yang sudah teronggok semalaman. SB yang saya (maksudnya ibu saya) beli, dikemas dalam plastik transparan dan diberi label “Sate Bandeng” beserta nama produsennya. Sederhana sekali, tanpa alamat maupun nomor telpon, sampai-sampai saya tidak berpikir dua kali untuk membuang kemasannya 🙂

Tampak luar dari SB adalah seperti ikan bandeng yang super gendut, dilapisi oleh kulit tambahan, dan bertotol-totol hitam bekas dipanggang. Bandeng tersebut dijepit oleh dua raut bambu yang selain berfungsi untuk melegitimasi adanya kata “sate” pada “Sate Bandeng” sepertinya juga berfungsi untuk melekatkan isian bandeng dan mencegahnya tumpah keluar dari kulitnya.

Sebelum icip-icip, saya panaskan SB itu sesaat hingga wanginya tercium ke seluruh penjuru rumah. Hmmmm… eeeeenak nih kayaknya… Yang pertama saya cuil adalah kulitnya. Kulit SB ini terdiri dari kulit ikan bandeng yang dilapisi dengan adonan tertentu, kemudian dipanggang. Sepintas lalu, lapisan yang melumuri SB ini berbentuk seperti kulit gorengan (pisang goreng, ubi goreng, tape goreng, dsb) namun lebih tebal dan berwarna kecoklatan. Rasanya manis-gurih dengan kadar pembumbuan yang sedang, dan saya masih mengecap jejak santan dan ketumbar pada bagian kulit ini. Ketika cuilan saya mencapai bagian badan, sensasinya agak mirip dengan bagian kulit. Manis dan gurih sekali, dengan tekstur yang lebih berbutir-butir, akibat pencampuran bandeng giling dan bumbu-bumbu lainnya (ya, santan dan ketumbar juga masih terasa). Sensasi keseluruhan dari makanan ini adalah manis, gurih, dan enaaaaakkkk….

Tidak terasa, lebih dari ½ bagian SB habis saya cuili. Wah, klo tau rasanya seenak ini, saya pasti memaksa ibu untuk beli lebih banyak. Saya dan ibu sama-sama menyalahkan Pak Puh karena nasihatnya yang menyesatkan (hehehhehe…). Sayang sekali, SB tersebut tidak dilengkapi dengan sambel untuk mengakomodasi selera pecinta pedas seperti ibu saya (emangnya Bandeng Prestooooo :D).

P.S.: Oh iya, saya baru tahu bahwa adonan yang dipakai untuk melumuri SB sebelum dibakar, ternyata sama dengan adonan isi SB :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s