Anoi (closed)

3 Jan
Anoi

Anoi

Tanggal 25 selalu menjadi hari yang spesial untuk saya dan partner, tidak terkecuali tanggal 25 bulan itu. Dari jauh-jauh hari saya sudah menentukan tempat makan bersama kami kali ini. Meski pada hari-hari lainnya kami sering bersantap bersama, tapi rasanya selalu berbeda bila ritual itu dilaksanakan pada tanggal 25. Yang lebih menyenangkan, partner selalu menyerahkan keputusan pemilihan tempat di tangan saya karna selera kami ngga jauh berbeda (baca: sama-sama pemakan segala), dan dia tau bahwa saya menjadi anggota milis kuliner.

Pilihan kali ini jatuh pada Anoi, resto masakan Vietnam yang terletak di Tebet Indraya Square (TIS). Kami berdua sering sekali melewati resto tersebut saat makan siang di “Pondok Pizza” cabang TIS, namun belum berani mencoba karna takut mahal. Beruntung, Anoi merupakan salah satu merchant yang bekerja sama dengan kartu kredit HSBC dalam promo All-You-Can-Eat-nya. Hanya dengan 50KIDR/pax, kami bisa menikmati beragam menu a la Vietnam yang disediakan. Tawaran yang menarik untuk kami yang belum pernah makan di sana (sebenarnya, kami belum pernah makan di any Vietnamese resto :p) karna resiko harga-wiiih-rasa-weeeh (HWRW) bisa diminimalisasi.

Kami sengaja datang pada jam 4, dan seperti yang telah saya prediksi, resto tampak sepi. Interior resto ini cenderung minimalis, dengan sofa-sofa yang menempel ke dinding resto, serta meja-meja dan kursi mass-product di bagian tengah. Setelah mendapat tempat duduk, saya langsung meminta menu AYCE pada pramusaji yang bertugas pada meja kami. Dengan sigapnya, beliau menunjukkan daftar makanan yang bisa dipilih, serta sedikit penjelasan mengenai masing-masing makanan. Seperti yang telah dijelaskan pada peraturan AYCE, promo ini mungkin lebih tepat disebut prix fixe, karna tidak ALL you can order (thus eat), tapi lebih ke arah complete but with limited choices, at a fixed price. Ngga semua masakan tersedia untuk AYCE, salah dua yang saya perhatikan menghilang dari menu adalah kopi Vietnam dan aneka masakan dengan bahan sapi. Tak apalah, toh kami ke sana dalam rangka percobaan pertama.

Sesuai saran pramusaji, kami mengawali santap sore kali itu dengan Bo La Lot dan Cha Gio Cua, dua item makanan pembuka yang bisa dipilih. Bo La Lot adalah semacam daging sapi cincang yang dibumbui, kemudian dibungkus dengan daun La Lot (daun anggur?). Rasanya gurih-manis, dan bentuknya yang imut (ada dua tusuk dalam satu porsi) menambah nikmat dalam menyantap. Cha Gio Cua sendiri berbentuk seperti risoles, dengan ragout yang terbuat dari daging kepiting, disajikan dengan saus a la mayones. Rasanya lebih cenderung ke gurih-asin, sehingga kami hampir kewalahan ketika harus menghabiskan masing-masing tiga Cha Gio Cua dalam piring saji kami.

Setelah makanan pembuka, kami lagi-lagi meminta bantuan pramusaji untuk memilih makanan utama. Saya yang awalnya ingin makan nasi, mengurungkan niat karena mbak pramusaji menyarankan untuk tidak makan nasi dulu, karna dikhawatirkan saya akan terlalu kenyang sehingga tidak mampu memesan menu selanjutnya (dan kehilangan esensi dari sistem AYCE). OK lah, saya menurut saja dan memilih Tai Long Bang sementara partner memesan Mi Ga Chien dan Che Cocktail, serta dua Ice Lemon Tea (Tra Da) untuk kami berdua.

Ketika Tai Long Bang datang, saya terkejut melihat ukuran mangkoknya yang super jumbo! Wah, tertipu nih, klo saya makan segini, mana kuat lagi saya makan nasi? Meski porsinya besar, rasanya not bad, Pho-nya kenyal dan tidak eneg, kuahnya sangat gurih dan segar, dengan potongan daging sapi yang generous, serta taburan daun mint dan aroma daun ketumbar yang semerbak. Sayang sekali, saya bukan penggemar daun ketumbar (bahkan dalam Tom Yum). Sedikit intemezzo, Tom Yum teraneh yang pernah saya makan adalah Tom Yum Goong di buffet Hotel Sahid Lippo Cikarang. Kenapa aneh? Karena sang Tom Yum Goong sama sekali tidak memakai Goong (udang) dan saya tidak menemukan jejak rasa daun ketumbar dalam kuahnya! Kembali ke Anoi, saya tidak sempat merasakan Mi Ga Chien milik partner karna terlalu berkonsentrai dengan Pho saya. Ice Lemon Tea-nya so-so, tidak ada yang istimewa, sedang Che Cocktailnya saya ngga suka karna rasanya susu sekaleeee…

Berhubung rongga perut kami berdua masih menyisakan tempat, kami sepakat untuk memesan sekali lagi. Saya yang masih kesengsem dengan risoles tadi, meminta seporsi lagi Cha Gio Cua sedang partner memilih Com Chien Duong serta tiga botol air mineral untuk kami berdua. Com Chien Duong-nya lebih mirip nasi goreng biasa, dengan campuran aneka sayuran dan telur dadar yang diiris tipis. Partner senyum-senyum saja sambil berbisik: “Enakan nasi goreng deket rumahmu…”

Setelah perut kenyang dan selesai ngobrol-ngobrol, menjelang pukul 6 partner meminta tagihan makan kami kali itu. Struk pembayaran menunjukkan total pengeluaran kami mencapai 181.5KIDR, namun semuanya sudah dicover dalam promo, dan kami cukup membayar 100KIDR saja.

Beberapa minggu kemudian, saya beserta 20 rekan kantor mengadakan makan siang bersama di Anoi. Pada kesempatan tersebut, saya memilih Ga Xao Xa Ot (BYKS) dan Bun Tom Xao sebagai makanan utama. Ga Xao Xa Ot adalah ayam bumbu sereh yang dihidangkan dengan sejenis nasi goreng yang dimasak dengan santan. Ayamnya empuk dan segar, sedang nasi gorengnya gurih sekali, mirip nasi hainam ditambah rasa tomat. Bun Tom Xao-nya terdiri dari bihun (rice vermicelli) yang dibumbui mirip asinan sayur dan diberi beberapa ekor udang. Rasanya asam-segar-pedas dan mantappppp! Satu jam kemudian, terlihat ke-20 orang korban berjalan lunglai (karna kekenyangan) menuju mobil masing-masing.

Anoi Vietnamese Kitchen and Bakery
TIS Square
Jl. MT Haryono Kav. 8 – 9
Jakarta Selatan
(021) 829 5548

Oh iya, setiap jumat dan sabtu malam mulai jam 7, Anoi menghadirkan musik akustik secara live untuk menemani santap malam pengunjungnya.

========================================================

Sejak Agustus 2006, Anoi udah ngga di Tebet lagi, dan posisinya digantikan sama resto Belanda HEMA, yang salah satu cabangnya ada di Cikarang (pernah liat, ngga pernah makan). Anoi pindah ke mana? Dunno :p

Advertisements

2 Responses to “Anoi (closed)”

  1. Bayu Amus 3 January, 2006 at 4:18 pm #

    Wahhh… eating endurancenya tinggi juga ya?! =)
    Nice review btw. Itu lucu juga si pramusajinya malah bantu nyusun strategi… di tempat lain belum tentu lho…

    Like

  2. Adinda Erisyanita 11 January, 2006 at 3:30 pm #

    Hehehehehe…
    Eating endurance tinggi -> bahasa yang cantik untuk menggantikan “Nggragas” 🙂
    Sayang pas gw pulang, mbaknya udah ganti shift. Padahal mau ngasih… ucapan terima kasih! 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s