Before Sunrise

13 Jan
Before Sunrise

Before Sunrise

SPOILER ALERT!

Dalam sebuah perjalanan menggunakan kereta dari Budapest ke Vienna, Jesse bertemu dengan Celine. Karena merasa “nyambung” dengan gadis Perancis tersebut, Jesse meminta Celine untuk turun bersamanya di Vienna, menemaninya menyusuri kota sambil menunggu pesawat kepulangannya ke Amerika yang akan berangkat keesokan harinya. Celine yang seorang guru dan masih punya beberapa hari libur sebelum harus kembali mengajar di Paris, langsung mengiyakan tawaran tersebut. Jadilah mereka berdua menghabiskan sepanjang sore hingga subuh dengan berjalan di sepanjang kota Vienna yang cantik.

Film ini unik banget, karna selama 1 jam 40 menit, penonton disuguhi adegan kedua pemeran utamanya ngobrol. Yup, ngobrol doang! They talked about everything, mulai dari hal pribadi yang remeh-temen (kapan pertama kali tertarik secara seksual terhadap lawan jenis?) sampai pandangan mereka tentang isu global semacam feminisme. Ada sih adegan yang ngga ngobrol, tapi sedikit banget. Dengan latar belakang sudut-sudut kota Vienna, mau ngga mau romantisme bisa tumbuh. In the end, mereka memutuskan untuk janjian ketemu lagi 6 bulan dari saat itu di stasiun kereta Vienna, without knowing (or asking) each other’s last name. Kenapa mereka ngga tuker-tukeran nomer telpon atau email aja sih? Karna jaman itu (settingnya taun ’94) handphone n internet blom musim, hehehhehehe 😀 Yang jelas, mereka nganggep cara komunikasi semacam itu sebagai hal kuno dan ngga romantis. A very stupid decision yang sempat mereka sesali pada film berikutnya (sequelnya).

Saya ngga mau banyak ngasih sinopsis film ini, karna bikin ngga seru nontonnya. Mungkin sedikit hint aja, film ini ngga cocok buat cowok & cewek macho (or sok macho) yang ngga suka disentuh sisi sensitifnya. Ya bayangin aja, hampir dua jam nontonin dua orang ngomong doang, ngga ada actionnya. Yakin deh, klo bokap saya ajak nonton, dijamin 5 menit aja pantatnya udah panas n langsung kabur ke kamar untuk nonton filmnya Steven Seagal yang lagi diputer di TransTV. Tapi buat saya yang hopeless romantic (kadang-kadang lhooo…) film ini bagus banget. Alur ceritanya pas, dan dari adegan yang mengalir, kita bisa ngikutin proses bagaimana sepasang insan bisa jatuh cinta dalam tempo semalam.

Yang mungkin menjadi kekuatan film ini adalah ide dasarnya yang cukup realistis. No, no, no, bukan the spending-one-night-with-a-total-stranger-in-Vienna part, tapi fakta bahwa Anda bisa bertemu dengan seseorang yang belum ada kenal di mana pun, memulai perbincangan dengan orang tersebut, and God knows apa yang mungkin terjadi kemudian. Realistis? Yeah, karna hal yang sama terjadi pada Richard Linklater (sutradaranya) pada suatu malam di Philadelphia, dengan seorang gadis bernama Amy (which eventually menjadi inspirasi untuk membuat film ini).

Oh iya, salah satu adegan yang memorable buat saya adalah di menit ke 40an. Jesse dan Celine lagi menyusuri sungai dan mereka ketemu seorang gelandangan. Gelandangan itu menawarkan untuk bikinin mereka puisi dengan imbalan seikhlasnya (cara mencari uang yang sangat kreatif, jangan dibandingin sama gelandangan di sini yak). All they had to do is name a word, dan si gelandangan akan memasukkan kata itu dalam puisi buatannya. Jesse secara spontan langsung menyebut “Milkshakes!”, karna sebelumnya dia dan Celine memang sedang berbicara tentang milkshake. Ngga sampai 2 menit, si gelandangan sudah menyodorkan hasil karyanya, and it goes like this…

“Daydream delusion
Limousine eyelash
Oh, baby with your pretty face
Drop a tear in my wine glass

Look at those big eyes
See what you mean to me
Sweet cakes and milkshakes
I am a delusion angel
I’m a fantasy parade
I want you to know what I think
Don’t want you to guess anymore

You have no idea where I came from
We have no idea where we’re going
Lodged in life, like branches in the river
Flowing downstream, caught in the current

I carry you, you’ll carry me
That’s how it could be
Don’t you know me?
Don’t you know me by now?”

Seperti komentar Jesse pada film tersebut, saya juga berpikir bahwa si gelandangan pasti udah menyiapkan puisi itu sebelumnya, dan tinggal diselipin kata-kata yang di-request aja. Silakan balik ke persepsi masing-masing. Film ini bisa jadi hiburan yang menyenangkan klo nontonnya tanpa prejudice, bener-bener ngikutin apa yang dimaui sang sutradara, dan coba memposisikan diri kita sebagai pribadi yang mengalami kejadian itu. Tapi klo dari awal udah skeptis, ya jangan berharap terlalu banyak.

Advertisements

One Response to “Before Sunrise”

Trackbacks/Pingbacks

  1. Boyhood | Ye Olde Poisonville - 14 May, 2015

    […] saja, seperti trilogi ‘Before…‘ film ini ngga cocok buat penggemar film action (menurut ngana?). Dan tentu saja, lebih baik […]

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s