Before Sunset

13 Jan
Before Sunset

Before Sunset

SPOILER ALERT!

Karna suksesnya Before Sunrise, pihak produsen membuat sequelnya yakni Before Sunset. Settingnya dibuat 9 tahun setelah pertemuan terakhir mereka di Vienna. Pertanyaan yang menggantung di akhir Before Sunrise bisa terjawab (apakah mereka jadi datang ke tempat yang telah ditentukan 6 bulan kemudian?). No, no, no, saya ngga akan ngasih tau jawabannya. Di sini, Jesse sudah menjadi novelis terkenal dengan buku best-sellernya yang menceritakan tentang pengalamannya one night (stand) di Vienna bersama Celine. Celine sendiri menjadi pekerja LSM lingkungan yang mendedikasikan hidupnya untuk berkeliling dunia, membantu orang-orang yang membutuhkan.

Mereka bertemu saat Jesse melakukan tur promo bukunya di Paris. Kejadian yang sama berulang, Celine menemani Jesse menyusuri kota Paris sebelum pesawatnya berangkat kembali ke Amerika. Di tengah-tengah film, baru dimunculkan dialog tentang keadaan Jesse sekarang, yakni menikah dengan 1 anak. Saya yang sejak awal berpikir, wah… bakal jadian lagi nih, langsung bersorak gembira dalam hati melihat perkembangan ini. Saya berharap film ini berakhir dengan kedua insan ini menjalani kehidupannya masing-masing, ngga bersatu. Bukannya skeptis, tapi saya mencoba realistis. Jika dua “mantan pacar” ketemu, dalam keadaan dua-duanya sudah punya keluarga dan kehidupan pribadi masing-masing (dalam film ini Celine baru pada tahap “in a relationship”, blom “married”), apalagi yang lebih baik selain membiarkan yang lalu berlalu, kemudian hidup untuk masa kini dan masa depan?

Seperti Before Sunset, Before Sunrise juga menggunakan dialog sebagai kekuatan utamanya. As a matter of fact, hampir ngga ada lompatan adegan, dialog yang terjadi seperti real-time, 1.5 jam di film = 1.5 jam dalam kehidupan nyata. The sense of impromptu juga masih terasa kental dan Julie Delpy tetap bermain dengan natural. Yang agak membedakan mungkin isi dialognya yang lebih berbobot daripada Before Sunrise, indicating bertambahnya usia dan tingkat kedewasaan mereka dalam berpikir.

Pada awal-awal film, Jesse dan Celine seperti sahabat yang lama tak bertemu, masih malu-malu mengungkapkan perasaannya. Mereka lebih banyak berbicara tentang pekerjaan Jesse dan Celine (terutama Celine), dan hanya sesekali menyentuh topik what “really” happened for the past 9 years. Ketika salah satu menghancurkan pertahanannya, maka dialog pun berubah menjadi pembicaraan tentang kenangan-kenangan masa lalu, serta penyesalan mereka berdua, mengapa ketika di Vienna ngga saling bertukar nama belakang, alamat dan nomor telpon. Untuk isu itu, Celine menjawab, “I guess when you’re young, you just believe there’ll be many people with whom you’ll connect with. Later in life, you realize it only happens a few times.” Celine juga bercerita tentang perasaan cinta dan romantismenya yang terenggut sejak malam di Vienna tersebut. Jesse bercerita tentang Celine yang muncul dalam mimpinya, serta betapa dia masih memikirkan Celine sesaat sebelum pernikahannya, bahkan sampai merasa melihat Celine di salah satu sudut kota New York dalam perjalanannya ke gereja (ternyata Celine pernah bermukim di NY dan tinggal 2 blok dari jalan tersebut!).

Mengulang tradisi prequelnya, Before Sunset juga menyelipkan adegan dengan puisi. This time, dalam bentuk Celine yang menyanyikan sebuah “Waltz” untuk Jesse…

“Let me sing you a waltz
Out of nowhere, out of my thoughts
Let me sing you a waltz
About this one night stand

You were, for me, that night
Everything I always dreamt of in life
But now you’re gone
You are far gone
All the way to your island of rain

It was for you just a one night thing
But you were much more to me, just so you know
I don’t care what they say
I know what you meant for me that day

I just want another try, I just want another night
Even if it doesn’t seem quite right
You meant for me much more than anyone I’ve met before
One single night with you, little Jesse, is worth a thousand with anybody

I have no bitterness, my sweet
I’ll never forget this one night thing
Even tomorrow in other arms, my heart will stay yours until I die

Let me sing you a waltz
Out of nowhere, out of my blues
Let me sing you a waltz
About this lovely one night stand”

Anyway, ngga seperti yang saya harapkan, Linklater memilih untuk memberikan happy ending pada film ini. Oh well, you can’t please everybody at the same time, right?

“Memory is a good thing, as long as you don’t have to deal with it.”

P.S.: Saya baru tau bahwa Before Sunset mendapat lebih banyak nominasi penghargaan (termasuk Oscar untuk Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published) daripada Before Sunrise. Tapi tetap saja, buat saya, ngga ada film sequel yang lebih baik daripada prequelnya (Lord of The Rings excluded!).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s