RM Ibu Layla

17 Feb
RM Ibu Layla

Nasi Kebuli

“Blup…blup…blup…blup…” (suara gelembung sabun), ponsel saya mengingatkan ada SMS yang baru masuk. Saya buka, ah ternyata partner sudah sampai di belakang kantor. Saya buru-buru menyambar dompet dan menuju lift. Sesampai di bawah, partner langsung menyambut dengan pertanyaan,
“Mau makan apa?”
“Nasi kebuli!”
“OK. Di mana?”
“Mmm… jalan aja deh, nanti kutunjukkin arahnya.”

Jalan Asem Baris yang terletak di belakang kantor saya, menjadi rumah bagi beberapa perusahaan jasa pengiriman tenaga kerja ke daerah Timur Tengah. Entah yang mana duluan, keberadaan PJTKI biasanya dibarengi dengan keberadaan pemukiman warga keturunan Timur Tengah, dan munculnya restoran spesialis makanan Timur Tengah. Contoh nyatanya mungkin area Condet 🙂

Anyway, target kami hari itu adalah Rumah Makan Ibu Layla yang letaknya di samping Masjid At Tahiriyah, dekat pertigaan Lapangan Roos – Bukit Duri Tanjakan. Jujur saja, seumur hidup saya blom pernah makan nasi kebuli, tapi lumayan kebayang lah, kayak apa rasanya. Lima menit menyetir dari kantor, kami sudah sampai di tujuan. Tempatnya sederhana banget, cuma ada beberapa meja dan kursi a la warung makan, namun dengan tingkat kebersihan yang lebih tinggi. Rumah makan tersebut dalam keadaan sepi, mungkin karena kami datang pas waktu sholat jumat.

Kami disambut oleh salah seorang staf yang langsung menyodorkan menu. Hmmm… quite pricey, pikir saya, karna dengan kondisi tempat yang very so-so, rata-rata makanan dibandrol mendekati 20K per porsi. Beberapa menu yang ada adalah nasi kebuli, nasi kabsa (menurut sang staf, mirip dengan nasi kebuli namun lebih merah, dengan bumbu tomat yang lebih banyak), nasi goreng, sop kambing, gulai kambing dan marak kambing. Ketiga jenis nasi bisa disajikan dengan daging ayam atau kambing. Pilihan minuman ngga terlalu banyak: teh, minuman botol dan aneka jus buah.

Saya memilih Nasi Kebuli Kambing (NKK) sedang partner mencoba Nasi Kebuli Ayam (NKA). Kami cukup lama menunggu (considering we’re the only customer there) kedua hidangan tersebut disiapkan. Ketika datang, NKK hadir dalam bentuk gundukan nasi kebuli berwarna cokelat kemerahan, beberapa potong gorengan kambing, sambal, emping dan duet irisan timun-tomat. NKA milik partner saya juga datang dengan komposisi yang sama, namun gorengan kambing diganti dengan ayam goreng dalam ukuran yang cukup besar.

Suapan pertama saya memberikan cita rasa sesuai bayangan, nasi berkualitas bagus dengan aroma dan rasa perpaduan bumbu-bumbu khas Tim-Teng. Rasanya spicy, tapi dalam kadar yang sangat agreeable, ngga nonjok, sehingga nyaman di lidah dan di perut. Karena saya lagi kepingin makan pedas, saya coba tambahkan sambalnya. Oalah, ternyata komposisi sambalnya lebih dominan berisi tomat dari pada cabe, dan sama sekali ngga menambah derajat kepedasan NKK. Bahkan, ketika saya coba icipi langsung sambalnya, rasanya cenderung manis dengan sedikit jejak asam dan pedas. Imajinasi saya mengusulkan bahwa tomatnya menggunakan tomat khusus yang ngga bisa ditemukan sebarang di pasar, karna rasa asamnya yang minim sekali.

Selanjutnya saya duga Ibu Layla mengungkep dulu potongan daging kambingnya dalam bumbu yang mirip dengan nasi kebuli, hanya derajat ke-spicy-annya dikurangi, baru kemudian digoreng. Hasil akhirnya adalah gorengan kambing yang berbumbu meresap namun ngga nendang, serta kadar kealotan yang sangat rendah. Ayam goreng milik partner saya digoreng a la kalasan, dengan bumbu (bukan lah, bukan bumbu nasi kebuli) yang juga meresap baik. Ketika kami mulai makan, ibadah sholat jum’at baru selesai, dan satu-persatu pelanggan Ibu Layla mulai berdatangan. Ternyata rating bagus yang saya berikan untuk masakan Ibu Layla ngga subyektif, terbukti dari ngga terputusnya antrian pelanggan, meski kebanyakan dari mereka lebih memilih dibawa pulang.

Total kerusakan kami hari itu adalah 40K, termasuk dua es teh manis. Tentu saja, saya dengan rela akan mengulangi lagi pengalaman ini jika ada kesempatan.

Rumah Makan Ibu Layla
Jl. KH Abdullah Syafei no.70
Kampung Melayu Besar
Telp: 021 – 8314615

P.S.: Beberapa hari kemudian, manajemen kantor saya mengadakan syukuran atas dimenangkannya tender proyek milik pemerintah sebuah negara di Timur Tengah. Salah satu menu yang muncul adalah nasi kebuli, namun dengan tampilan yang jauh berbeda, nasinya dicampur daging kambing cincang, dengan hasil akhir berwarna putih agak kecoklatan (dominan putih). Sayang, nasinya datang sesudah jam makan siang dan sebungkus nasi padang, jadi saya ngga ikutan ngicipin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s