Monk (TV Series)

24 Feb
Monk

Monk

Nothing soothes me like a good bowl of mystery. Entah disajikan dingin bak Halo-Halo maupun sehangat Sup Krim Ayam (hahahaha, analogi yang aneh :D), saya ngga mungkin menolak. Begitu pula ketika wikipedia “mengenalkan” saya dengan Monk, seorang polisi penderita kelainan obsesif/kompulsif yang diberhentikan dari kerjaannya untuk kemudian menjadi konsultan swasta. Bisa ditebak, the next time saya pergi ke Mal Ambasador, saya langsung menyambar bundel DVD Monk musim-tayang 1 yang tampak begitu menggoda.

Sifat Monk yang cinta kerapihan ngingetin saya sama Hercule Poirot, detektif kawak ciptaannya Agatha Christie. Seperti Poirot juga, Monk bisa melihat apa yang orang lain ngga lihat, mengumpulkan bagian demi bagian dari puzzle yang ada, untuk kemudian menyatukannya seperti sebuah gambar yang utuh (using his grey cells :D). Refreshing yang nikmat sekali, setelah sekian jam menghabiskan waktu menonton CSI. Ngga kok, saya sama sekali ngga nganggep CSI jelek. As a matter of fact, saya justru cinta banget sama CSI. Ya iya lah, hare gene film misteri detektif (dan BAGUS) kan bisa dihitung pake jari. Yang saya bilang dengan refreshing adalah, CSI menampilkan cerita detektif dengan metode khusus, yakni urutan kerja yang sistematis, dan penonton diajak mengikuti tahapan demi tahapan pemecahan misteri, sehingga pada akhirnya tim CSI bersama penonton akan menyelesaikan kasus itu bersama-sama. CSI bisa bikin penonton serasa jadi salah satu anggota mereka, karena penuturan yang deskriptif dan transparan, ngga ada petunjuk yang disembunyikan maupun detektif yang terlalu pintar sehingga terkesan menipu penonton.

Naaah, Monk lain lagi. Selama hampir 90% durasi film, penonton disuguhi adegan terjadinya kasus, serta bagaimana Monk (dan perawatnya Sharona) mencari petunjuk yang bisa digunakan untuk menyelesaikan kasus tersebut. Sisa 10%-nya digunakan untuk menghasilkan penjelasan yang sangat masuk akal mengenai siapa penjahatnya, bagaimana modusnya dan apa motifnya. Lha terus, kapan proses penyusunan keping-keping puzzle itu? Itu urusan penonton, karna Monk sama sekali ngga ngasih tau keping ini harus ditaruh di mana dan sebagainya sampai waktunya penyelesaian (hehehehe, terdengar seperti H2C). Ibarat guru bimbingan tes UMPTN (sekarang SPMB ya?), Monk cuma ngasih soal dan buku yang bisa dijadiin referensi, habis itu setelah beberapa waktu, dia akan kasih tau jawaban yang benar. Beda sama CSI yang ngajarin problem-solving-nya step-by-step, jadi ngga ada bagian yang missed.

Salah satu yang saya suka dari Monk adalah kemampuan deduksinya. Ngga seekstrim Sherlock Holmes atau Kudou Sinichi yang bisa nebak profesi orang hanya dari jabat tangan, tapi cukup impresif tanpa harus over-the-top. Misalnya, dia bisa tau klo seorang polisi habis berantem sama istrinya dari:
a. Hasil cukurannya yang ngga bersih (istrinya pasti langsung notice that).
b. Simpul dasinya yang beda dari yang biasa (simpulan: dia memakai dasi sendiri).
c. Cangkir minumnya yang bertulisan Ramada Inn.
Kekekeke, bahkan saya ngga ngeliat sedetil itu, padahal kamera udah ngeshoot cangkir Ramada itu dari awal. Yang juga menarik adalah kelainan obsesif-kompulsifnya yang sering memunculkan adegan-adegan lucu sepanjang film. Serius, karena bikin penontonnya ikutan mikir pemecahan kasusnya, tapi sekaligus lucu karna tingkah polah Monk yang ajaib. Kombinasi yang menyenangkan!

Jalan pikirannya yang detil dan sistematis bikin Monk bisa nyortir mana bukti yang penting dan mana yang engga, dan dia akan kejar bukti penting itu sampai ketemu penjelasan logisnya. Yang paling menegangkan tentunya pas akhir cerita, di mana saya bisa bandingin hasil penyusunan puzzle a la saya dengan hasil yang benar. Fiuh, rasanya kayak baca Perry Mason-nya Erle Stanley Gardner, you can guess who’s the villain, tapi kita ngga bisa nebak how and why sampai pada saat-saat terakhir.

Anyway, seperti yang udah saya bilang tadi, Monk seperti pergantian suasana dari CSI. Dua-duanya menarik, dua-duanya brain-teasing, dua-duanya menghibur, dan dua-duanya saya suka, tentu dengan porsi yang beda.

Oh iya, sampai saat ini (musim-tayang 4), Monk sudah menerima berbagai penghargaan prestisius, termasuk 2 Emmy (thn 2003 dan 2005), 1 Golden Globe (thn 2003), dan 2 Actor (thn 2004 dan 2005) untuk Tony Shalhoub, pemeran utamanya.

Advertisements

6 Responses to “Monk (TV Series)”

  1. Bayu Amus 24 February, 2006 at 10:11 am #

    oke, u got me, ntar kalo ke Ambas gw cari deh… =)

    Like

  2. Adinda Erisyanita 13 June, 2006 at 8:45 am #

    Bay, Monk mulai minggu ini disiarin di Indosiar. Tiap jumat jam 12 malam (sabtu jam 00 pagi) ngegantiin CSI: Miami.

    Hehehehehe, ngga penting banget ya 😀

    Like

  3. Bayu Amus 13 June, 2006 at 11:28 am #

    indosiar? hmm… gak terlalu bagus di tv gw… mendingan by DVD aja deh =D

    Like

  4. Chica Paramita 13 June, 2006 at 1:03 pm #

    gue DVDnya udah lengkap sampe session 3, cuma belum sempet nontonnya 😀
    paling cuma ngejar di star world hari senin, jam 10 malem

    Like

  5. Adinda Erisyanita 13 June, 2006 at 1:51 pm #

    hahahha, sesama pemborong dvd tapi ngga pernah sempat nonton 😀
    season 3 beli di mana mbak chic? ambasador ada ngga? btw, pernah nemu dvd-nya twilight zone ngga?

    Like

  6. Chica Paramita 13 June, 2006 at 2:07 pm #

    Iya, beli di Ambassador, nitip sodara yang udah jadi Lurahnya Ambassador :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s