Grave of the Fireflies

22 Aug
Grave of the Fireflies

Grave of the Fireflies

SPOILER ALERT!

Saya (biasanya) ngga suka filem tentang perang, karna menurut saya filem perang cuma berisi dua hal:
– Kisah heroik manusia yang dihadapkan pada perjuangan hidup dan mati
– Humanisme yang berlebihan karna kontrasnya kehidupan yang keliatan jelas banget saat perang
Cuma, karna Grave of the Fireflies (GoF) berlindung di bawah nama besar Studio Ghibli, saya mau ngga mau harus masukin filem ini di agenda saya.

Sebelum nonton, saya udah prepare untuk nangis bombay karna banyak review yg saya baca nyebutin betapa sedih-sendu-mendayu-dayunya filem ini. GoF dibuka dengan adegan peron stasiun yang suram, dan beberapa mayat bergelimpangan di sana (suraaam bukan seraaam). Mayat-mayat tersebut adalah gelandangan yang mati karna ngga bisa makan, termasuk jagoan kita Seita. Seita (kayaknya 12 taun-an) dan adiknya Setsuko (kayaknya 3 taun-an) terpaksa tinggal sebatang kara karna ibu mereka meninggal saat pasukan sekutu menyerang Jepang. Ayahnya juga ngga bisa diharapkan karna sedang berjuang sebagai tentara AL Jepang.

Seita dan Setsuko numpang tinggal di rumah tante mereka di kota tetangga (kok terdengar seperti milis tetangga ya? halah…) yang relatif masih aman dari serangan bom. Awal-awalnya sang tante menyambut mereka dengan baik, apalagi waktu tau ibu Seita dan Setsuko mewariskan banyak makanan dan barang berharga buat anak-anaknya. Lama-kelamaan setelah semua barang habis kejual, tante mulai ngerasa keberatan sama mereka. Tante menyebut mereka pemalas, ngga seperti suami dan anak perempuannya yang bekerja dan belajar, pokoknya ngasih kontribusi lah buat The Empire.

Harga diri Seita terkoyak (haiyaaah…), dan dia mutusin untuk keluar dari rumah bersama Setsuko. Mereka tinggal di goa merangkap bunker di pinggir sungai, hidup dari sisa tabungan yang masih ada. Waktu uangnya habis, Seita kelabakan. Dia mulai mencuri dari rumah-rumah yang ditinggalin penduduknya, meski itupun ngga cukup. Kesehatan Setsuko makin menurun, dan akhirnya dia meninggal karna diare.

Cerita ini sad ending, karna semua orang akhirnya meninggal. Harusnya Seita ngga perlu tinggi hati dan menolak usul Pak Tani (ini maksudnya petani, bukan Mr. Tani) untuk balik ke rumah tantenya waktu Setsuko sakit parah, tapi mungkin GoF ngga akan sebagus ini jadinya klo plot itu yang dipilih 😀 Yang bikin sangat menyentuh adalah adegan flashback, waktu Seita nginget kenangan indah mereka sekeluarga sebelum perang, sama ngeliat keadaannya dan Setsuko saat itu. Sampai sekarang pun, klo saya nginget filem itu, tenggorokan saya rasanya gimana gitu, kayak ada biji kedondong yang nyangkut. A very powerful movie yang bisa nunjukin ke semua orang betapa kejamnya efek perang for the innocents.

@sYan, Agustus 2006

Oh iya, menurut wikipedia, kisah filem ini adalah semi-autobiografi dari sang penulis, Akiyuki Nosaka. Huhuhuhuhuhu, mau nangiiiiis…

Advertisements

5 Responses to “Grave of the Fireflies”

  1. Yohanna Elwen 22 August, 2006 at 1:32 pm #

    HUAAAAAAAA!!!!!
    Ini salah satu anime paling bagus yang pernah saya tonton! *nyembah-nyembah*
    Meski sad-ending, tapi bisa berkali-kali nonton. Dan berkali-kali nangis juga! Pokoknya TOP BANGET! Kabarnya ini adalah salah satu film yang bisa bikin cowok yang kelihatannya paling kaku dan jaim dan emotionless sekali pun bisa merasa terharu sampai menitikkan air mata (Ini pengalaman pribadi lho, setelah ada teman cowok semasa kuliah yang ketahuan nangis sewaktu nonton film ini. Hihihi….)

    Like

  2. Andrew Mulianto 22 August, 2006 at 2:18 pm #

    Emang top film ini, coba nonton juga karya Hayao Miyazaki “Spirited Away” dan “How'l Moving Castle” dan “Princess Mononoke” asik2 pisan tuh

    Like

  3. tita Larasati 22 August, 2006 at 2:33 pm #

    ini satu2nya film yg bisa bikin aku nangis! plotnya bagus, pas banget utk membangun emosi dari awal hingga akhir.

    Like

  4. Bayu Amus 22 August, 2006 at 4:36 pm #

    film “kartun” yang bukan konsumsi anak-anak =)
    yang gw gak abis pikir, kenapa animasi2 serius jepang, rata2 mood nya dark dan dramatis-tragis… Mononoke, even Tottoro, atau Pompoko, latbel ceritanya sedih…

    Like

  5. Adinda Erisyanita 22 August, 2006 at 5:56 pm #

    – Spirited Away tuh filem Studio Ghibli yang pertama gw tonton…
    – Mononoke juga udah nonton, tapi gw pribadi lebih suka Spirited Away
    – Howl's Moving Castle belom :p

    Whisper of the Heart termasuk serius ngga Bay?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s