The Duck King

20 Oct

Sudah sejak lama saya mengincar The Duck King (TDK) sebagai tujuan gastronomic adventure saya. Namun, karna beberapa kali ke Plasa Semanggi selalu either:
– bukan pada jam makan
– dalam kondisi *hemat-karna-kebanyakan-belanja-baju-di-centro mode ON*
– perginya bareng temen cewek yang notabene ngga bisa dikilik-kilik buat nraktir πŸ™‚
maka keinginan saya yang satu itu blom pernah kesampaian.

Pada suatu sabtu di bulan ramadhan, saya bersama Buzz (lebih tepatnya: ditemani Buzz :D) berniat browsing baju di Centro. Selama browsing, ngga terasa jarum jam tangan kami berdua udah melewati angka 5. Saya bergegas mengajak Buzz bersiap mencari resto untuk berbuka puasa. Urusan pemilihan resto *tentu saja* Buzz serahkan kepada saya.

Pilihan pertama saya adalah Platinum, resto yang udah ngetop sebagai very good value for money. Tapi, berhubung sudah dekat jam 5.30, seperti yang saya duga, Platinum sudah penuh luar-dalam (luar = pengantri tempat duduk) :p

Ah, mungkin memang nasib saya yang “harus” makan di TDK. Ndilalah juga, TDK yang biasanya susah banget dicari *secara posisinya ngga ngumpul sama resto-resto lain* kok hari itu penunjuk jalannya pops di depan mata saya. Ngga pake nyasar, pusing bin binun, dalam sekejap kami berdua udah berdiri di depan resto.

Klo dari luar bagian samping, pemandangan TDK adalah bebek-bebek panggang berwarna kemerahan yang digantung *jahat ya Buzz? :)*. Tapi di dalamnya OK kok, kursi-kursi nyaman dan meja ukuran besar, plenty of mirrors, lengkap dengan pelayan yang berseliweran dengan seragam berwarna merah & hitam. Interiornya comforting tanpa harus ribet, dan jelas ngga minimalis kayak kebanyakan resto jaman sekarang *huh*

Saya pesan Nasi Hainam TDK, sementara Buzz memilih Nasi Goreng TDK. Untuk minumnya saya pilih jasmine tea serta jus buah campur (duh, lupa namanya), Buzz memesan teh manis hangat dan jus buah juga (lupa juga namanya). Mereka juga nyediain complimentary bubur kacang ijo, dan asinan buah-sayur (pedez) buat ngebatalin puasa.

Ngga berapa lama, minuman kami dateng duluan. Jus buahnya datang di gelas tinggi, dijamin puas deh minumnya. Teh melati saya disajikan lengkap dengan poci gede & gelas keramik, sementara gelas teh manis Buzz guedeeeeeeeee banget, lebih gede dari gelas di Chili’s *klo gini mah ngga free-flow pun ngga rugi deeeh*. Jus saya okeh, harmoni rasanya lucu dan ngga ada buah yang asem. Teh melatinya mirip teh hijau, ngga manis dan di ujung tegukan saya bisa cium aroma melati yang meresap dalam kerongkongan. Light dan ngga annoying. Saya ngga coba minumannya Buzz, tapi tampaknya sih dia puas.

Selanjutnya main course, nasi hainam buat saya dan nasi goreng buat Buzz. Nasi hainam saya predictable, dengan beberapa potong daging bebek panggang di sisinya. Kulit bebeknya krispi dan meresap bumbunya, tapi lho kok agak amis? Duh, ngga sesuai sama review nih. Di tengah-tengah makan, saya melirik Buzz yang ternyata dalam kondisi wajah kemerahan akibat nasi gorengnya yang terlalu pedas. Saya mengusulkan (baca: memaksa) untuk switch plates, biar saya yang habiskan nasi goreng pedas itu sementara Buzz makan nasi hainam saya. Nasi gorengnya enaaak, klo buat saya mah pedesnya pas, sedikit di atas rata-rata tapi masih tolerable. Dikasih potongan cengek (yang ini saya hindari), irisan bebek, sayur2an potong, dengan bumbu medok kayak nasi goreng jawa. Sayang, selera makan Buzz udah hilang, jadi dia ngga habisin makanan (saya), malah ngabisin teh manis sejerigen yang tadi udah saya ceritain :p

Total kerusakannya saya ngga tau, karna bon langsung diambil alih sama Buzz *he is such a gentleman :D*, tapi prediksi saya sih sekitar 150an deh. Saya pribadi puas makan di sini, karna meski harga makanannya sedikit di atas standar (main course mulai dari 30 ribuan, minum 20 ribuan, excluding taxes), tapi porsinya yang nendang dan rasa yang OK bikin ngga kecewa deh. Kecuali bebeknya yang anomali 😦 Next time klo ke sini, ngga boleh lupa tanya kadar kepedasan makanannya, soalnya di menu ngga ada gambar cabenya πŸ˜€

The Duck King
Plasa Semanggi lt. 3
Jakarta Pusat

Advertisements

2 Responses to “The Duck King”

  1. Chica Paramita 20 October, 2006 at 1:51 pm #

    masa nggak puas sama bebeknya ? biasanya bebeknya enak kok.
    kalo ke sini enakan rame-rame biar bisa mesen banyak macem. cumi lada garemnya enak, mun tahunya juga asik.
    dessertnya juga enak2, favorit gue puding mangga yang pake printilan jeruk bali.

    Like

  2. Adinda Erisyanita 20 October, 2006 at 2:19 pm #

    justru itu gw heran, padahal di sini kan andalannya masakan bebek.
    iye, gw liat meja depan gw mesennya bebek utuh, gurame, cumi, sayur-sayuran, kayak buat makan sekampung. cuma gw lupa mejanya pake lazy susan atau ngga.
    gw liat meja sebelah pesen what looked like salad ubur2, must try juga deh next time :p

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s