Eragon (The Novel)

14 Dec
Eragon Novel

Eragon (Novel)

“Of the affairs of love . . . my only advice is to be honest. That’s your most powerful tool to unlock a heart or gain forgiveness.”

Kata-kata Garrow tadi menghantar Roran dan Eragon menuju masa depan yang telah mereka pilih. Ngga ada yang menduga bahwa sesudah itu, tragedi dan petualangan silih-berganti menyapa Eragon. Dari petani miskin yang buta huruf, Eragon perlahan namun pasti berubah menjadi Rider, ksatria dengan naga Saphira sebagai partnernya.

Awalnya, tujuan Eragon meninggalkan rumah dan berkelana adalah untuk membalas dendamnya ke Ra’zac. Namun lama kelamaan, Eragon sadar bahwa kekuatannya harus digunakan untuk menegakkan kebeneranan. Misi pribadinya pun berubah seiring meningkatnya kedewasaan Eragon. Menjadi seorang Rider yang ahli duel dan mahir mengucap mantra ngga berarti tanpa masalah, justru banyak pihak yang ingin menguasai dirinya. Raja Galbatorix yang lalim ingin Eragon bergabung dengannya agar semakin tak terkalahkan. Di sisi lain, pemberontak Varden ingin Eragon mendukung perjuangan mereka menghancurkan Galbatorix dan keseluruhan Empire. Pada akhirnya nanti, Eragon harus memilih jalan hidup seperti apa yang dia inginkan.

Saya mau ngga mau harus membandingkan buku ini sama trilogi Lord of the Rings (LOTR) bikinan JRR Tolkien (Paolini memang berencana membuat trilogi Inheritance, dengan Eragon sebagai buku pertama, Eldest buku kedua, dan buku ketiga yang masih dirahasiakan). Kedua seri sama-sama seru, dengan adegan kejar-kejaran yang constantly took my breath away, serta berbagai macam mahluk might & magic yang menggabungkan fantasi dan realitas. Saya lebih banyak deg-degan waktu baca buku ini dibanding saat baca LOTR, karna actionnya lebih banyak. Sayang musuhnya cuma itu-itu aja (loads of Urgals & a Shade), jadi agak membosankan.

Gaya penuturan Paolini juga ngga semulus Tolkien. Yah, bisa dimengerti lah, Paolini kan “cuma” remaja lulusan SMA, sementara Tolkien adalah Profesor Bahasa Inggris (Anglo-Saxon) di Oxford. Ide Paolini bagus, menciptakan creatures baru seperti Urgal, Shade, Rider, dan Werecat yang belom pernah dikenal. Tapi klo kata saya mah jadi cenderung maksa. Urgal gaya-gayanya mirip Orc, cuma bedanya Urgal bertanduk. Shade klo di bayangan saya mirip Vampire berambut merah (cara mbunuhnya pun sama: ditusuk di jantung). Rider cuma keren karna mereka berpartner naga, jadi kekuatannya bisa di-combine. Yang agak unik cuma Werecat, kinda reminds me of Cheshire Cat di Alice in Wonderland.

Satu lagi yang bikin saya ngga sreg adalah betapa “lemahnya” manusia digambarkan. Kesannya ngga ada kelebihannya gituh (kecuali klo dia Rider). Beda sama LOTR yang masing-masing creatures-nya punya kelemahan dan kelebihan masing-masing. Orc mungkin secara fisik lebih kuat dari Halfling / Hobbit, tapi kalah dari segi kecerdasan pikiran dan emosional.

Klo saya bisa kasih nilai 95 alias 5 bintang buat LOTR (dikurangi 5 poin soalnya bukunya tebel banget :D), saya prefer ngasih 78 (4 bintang) buat Eragon. Hahahaha, nanggung banget yah. Pokoknya gitu deh, klo ini ujian ya nilainya B. Kelebihannya adalah seru banget, tapi kekurangannya cara penuturannya kurang asik.

Habis baca bukunya, tentunya harus nonton filemnya dong…

May your swords stay sharp!

foto sampul novel Eragon diambil dari hxxp://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/b/bc/Eragon.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s