Bridge to Terabithia (The Novel)

28 Jun
Bridge to Terabithia

Bridge to Terabithia

Sebenernya udah niat mau nonton filemnya dolo sebelum baca bukunya. Tapi berhubung penasaran banget, “terpaksa” nontonnya ntar-ntar aja deh. Waktu liat poster filemnya, kirain BtT tuh cerita fantasi, kayak LotR dan temen-temennya gitu. Berhubung saya cinta banget sama fantasi, tentunya saya ngga akan ngelewatin buku ini.

Ceritanya tentang 2 tetangga sebelah rumah: Jesse (cowok) dan Leslie (cewek), kelas 5 sekolah Lark Creek Elementary yang sama-sama suka lari (bukan lari dari masalah, tapi lari beneran). Jesse anak ketiga dan cowok satu-satunya dari 5 bersaudara, sementara Leslie anak tunggal. Ayah Jesse kerja di kota dan keluarganya hidup sederhana, ortu Leslie penulis buku best sellers dan uang bukan masalah buat mereka. Meski begitu, di rumah Leslie ngga ada TV, bukan karna mereka ngga mampu beli TV, tapi karna mereka ngga mau.

Cara dia berpakaian, apa yang dia bawa buat makan siang, sampai keadaan rumahnya yang tanpa TV, bikin Leslie dianggap aneh dan dikucilkan sama temen-temennya, kecuali Jesse. Makin lama, Jesse dan Leslie makin deket, dan mereka sering main di hutan belakang rumah Leslie setelah pulang sekolah. Di sana, mereka bikin kerajaan khayalan bernama Terabithia, dengan Jesse dan Leslie sebagai raja dan ratunya.

Petualangan di Terabithia ngga banyak diceritain dengan detail. Ngga ada tuh yang namanya elf (atau paling ngga fairy lah), halfling / hobbit, orc, dwarf, atau hewan-hewin yang bisa ngomong. Tapi uniknya, waktu mereka ngadepin masalah di sekolah, Jesse dan Leslie meng-“convert”-nya jadi masalah di Terabithia, dan coba nyelesain secara raja dan ratu. Keren! In the end, both Jesse dan Leslie sama-sama jadi orang yang lebih baik karna support yang lain.

Gaya nulis Paterson di buku ini cenderung santai. Ngga ada bagian yang seruuu banget sampai saya ngga bisa berhenti baca. Tapi ngga ngebosenin juga sih. Adegan yang juga menarik adalah waktu Leslie ikut ke gereja bareng keluarga Jesse, gimana Paterson membahas religiusitas dari kaca mata anak-anak. Bab-bab terakhir buku ini justru saya baca di atas angkot, dan mata saya sempet berkaca-kaca karna terlalu menghayati jalan ceritanya. Kenapa mata saya berkaca-kaca? Klo mau tau, silakan baca bukunya sendiri, hehehhehe šŸ™‚

Jadi apakah ini buku cerita fantasi? Jawabannya: BUKAN! Jangan sampai terkecoh seperti saya yah šŸ˜€

Foto diambil dari hxxp://a0.vox.com/6a00c2252478c6604a00cdf3a7cb18cb8f-500pi

Advertisements

4 Responses to “Bridge to Terabithia (The Novel)”

  1. Yohanna Elwen 28 June, 2007 at 6:49 pm #

    Sama! Kalo daku waktu itu di bus dalam perjalanan ke kantor. Jadi sampai kantor malah jadi lesu :p Uh, semoga aja film-nya gak semengecewakan Eragon, karena menurutku buku ini cukup layak diacungin jempol *belum nonton film-nya juga*

    Like

  2. Adinda Erisyanita 29 June, 2007 at 8:46 am #

    Filemnya ternyata buaguuusss… Ntar gw review juga deh, he3x

    Like

  3. dhani mupi 21 July, 2007 at 5:48 pm #

    “My Father said, 'TV just destroy your brain'” – Leslie

    Like

  4. Adinda Erisyanita 23 July, 2007 at 1:14 pm #

    klo kerja di pedalaman, ga ada internet kecuali di kantor, bini tinggal jauh di lain pulau – tv destroys your brain ga? šŸ˜€

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s