Boyhood

14 May

Boyhood

Saya suka nonton, tapi murni cuma buat hiburan. Saya ngga terlalu tertarik sama behind the scene dan hal trivial lain yang berhubungan dengan produksi film. Buat saya, film bagus ya film yang menghibur, ngga peduli itu dibuat dalam 12 hari atau 12 tahun. Tentu saya tau bahwa Boyhood diproduksi selama 12 tahun, tapi justru hal itu yang menggelitik pikiran saya sebelum menonton. Kalau saya melepaskan identitas ’12 years in the making’ dan menganggap semuanya hanya kekuatan casting dan makeup, apakah Boyhood tetap wajib ditonton?

Dan ternyata jawabannya, iya. Bagi penggemar trilogi ‘Before…’ tentu sudah paham dengan gaya bertutur Richard Linklater yang mengambil satu (atau dalam Boyhood, banyak) fragmen dari kejadian sehari-hari lalu menyusunnya menjadi film yang utuh. And he’s really good at it, setiap fasa berjalan dengan mulus. Ngga perlu pakai caption ‘1 year later…’ untuk menunjukkan bahwa tahun telah berganti. Perubahan fisik dan keadaan saat itu udah cukup menjelaskan. Semuanya secara natural, ngga ada kesan dipaksakan. Saya juga suka banget cara Linklater menyisipkan komponen-komponen pop pada tahun yang sedang berjalan, misalnya dance ala Britney Spears atau antrian panjang saat launching novel Harry Potter.

Film ini juga berhasil membuat saya melupakan smartphone, laptop, dan sumber distraksi lain yang selalu mengoda kalau saya lagi nonton di rumah. Saya beneran anteng nonton, sambil sesekali menyuap mie instan yang memang sudah disiapkan sebelumnya, hahahaha. Padahal ngga ada bagian menguras emosi, ngga ada yang seru dan bikin deg-degan, ngga ada klimaks maupun antiklimaks. ‘Cuma’ adegan-adegan perjalanan hidup seorang laki-laki sejak kanak-kanak sampai menjelang dewasa, tapi bisa bikin saya ngga beranjak dari sofa.

Tentu saja, seperti trilogi ‘Before…‘ film ini ngga cocok buat penggemar film action (menurut ngana?). Dan tentu saja, lebih baik nonton tanpa pengharapan apa-apa. Ngga usah terlalu dipikirin soal produksi film yang mencapai 12 tahun, ngga usah dipikirkan soal jalan cerita yang berubah seiring waktu, ngga usah dipikiran soal soundtrack yang… ah sudahlah, I talk too much, hahaha. Relax and enjoy the ride, hope you’ll love it as much as I did 🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: