Archive | books RSS feed for this section

Strawberry Shortcake Murder – Hannah Swensen Mysteries

9 Jul
Strawberry Shortcake Murder - Hannah Swensen Mysteries

Strawberry Shortcake Murder

Awalnya tertarik karna baca judul serialnya yang lucu-lucu. Bayangin aja, Chocolate Chip Cookie Murder, Strawberry Shortcake Murder, Blueberry Muffin Murder, Lemon Meringue Pie Murder, Fudge Cupcake Murder, Sugar Cookie Murder, Peach Cobbler Murder, Cherry Cheesecake Murder, Key Lime Pie Murder, Carrot Cake Murder, dan Cream Puff Murder. Ini novel detektif apa daftar menu cake shop? ๐Ÿ™‚

Tokoh utamanya ada Hannah Swensen, cewek umur 30-an yang punya usaha bakeri di sebuah kota kecil Lake Eden. Sambil ngurus tokonya, Hannah memecahkan misteri pembunuhan yang terjadi di sekitarnya. Tentu dengan cara yang “terselubung”, kayakย Miss Marple-nya Agatha Christie. Meski (merasa) ngga cantik, Hannah punya dua “pengagum”, dokter Norman Rhodes dan detektif Mike Kingston, jadilah kisah detektif ini ada bumbu romansanya juga.

Saya kebagian baca buku yang nomer 2: Strawberry Shortcake Murder. Setelah dibaca ternyata lumayan, alurnya enteng, ngga perlu mikir banyak untuk nebak sapa pembunuhnya. Sempet kagok juga, karna saya biasa baca Agatha Christie yah, jadi malah curiga klo pemecahannya terlalu simpel. Tapi ternyata memang gitu, what you see is what you get.

Yang unik adalah… di dalem buku ini terselip berbagai resep kue! Strawberry Shortcake Murder ini kan kejadiannya saat acara kontes membuat kue, dan Hannah sebagai bintang tamu diundang untuk memperagakan cara membuat kue sekaligus membagi resepnya. Klo saya ngga salah itung, ada 7 resep kue yang tercantum di buku nomer 2 ini, mulai dari Strawberry Shortcake (pastinya) sampai Molasses Crackers. Klo ada yang minta, saya mungkin akan ngeluangin waktu untuk nyalin resepnya ke sini *ngelirik pembuat loaf cantik dari eMPi sebelah*.

Joanna Fluke, si pengarang, memang berasal dari keluarga pembuat kue, dan dia awalnya menulis naskah yang ingin dibuat menjadi buku resep. Tapi editornya mengusulkan untuk membuat novel detektif bertema kuliner, dan jadilah serial Hannah Swensen! Selain resep kue, ada juga beberapa tips baking yang terlontar di dalem buku. Hahaha, sok JS banget yah, cerita misteri aja pake ada resep kuenya segala. Sempilan resep di dalem buku ini jadi ngingetin saya sama manga Addicted to Curry.

Secara keseluruhan sih cukup menghibur dan enteng (tapi ngga seenteng chick lit lho). Bacanya lebih baik ngurut dari nomer 1, karna meski kasus utama yang dihadapi ngga berhubungan, tapi cerita remeh-temehnya nyambung. Misalnya hubungan si X & si Y yang awalnya biasa aja, di buku berikutnya digambarkan mulai pacaran. Udah kayak novel drama aja deh. Oh iya, kenapa bintang tiga? Karna dari sisi cerita detektifnya biasa banget, kurang greget klo buat saya.

Gambar sampul diambil dari hxxp://www.murdershebaked.com/

His Dark Materials Trilogy

24 Apr
His Dark Materials

His Dark Materials

His Dark Materials (HDM) adalah seri novel trilogi bikinan Philip Pullman, yang terdiri dari The Golden Compass (a.k.a. The Northern Light), The Subtle Knife, dan The Amber Spyglass. Tokoh utamanya bernama Lyra Belacqua, seorang gadis pra-remaja dari dunia di mana setiap individu memiliki dรฆmon, yakni manifestasi fisik (berbentuk binatang) dari jiwa seseorang. Di dunia Lyra, Gereja memegang kekuasaan yang sangat besar, dan mengendalikan semua aspek kehidupan individunya.

Adalah Dust, partikel kasat mata yang menurut Gereja merupakan penyebab manusia berbuat dosa. Demi menciptakan dunia yang tentram, Gereja berusaha mencari cara memusnahkan Dust. Salah satu metoda yang diteliti adalah memisahkan manusia (anak-anak) dari dรฆmon-nya. Ketika Roger, sahabat Lyra, diculik untuk dijadikan kelinci percobaan, Lyra bertekad untuk menyelamatkan Roger.

Upaya penyelamatan ini ternyata berujung pada misi yang lebih besar lagi. Lyra berkelana lintas-dimensi, bertemu manusia dan makhluk berakal dari berbagai ras, untuk kemudian bersatu melawan Gereja dan Kerajaan Surga.

Karna ini cerita fantasi, selain manusia di HDM juga ada karakter dari bangsa Witches, Panserbjรธrne (armored bears), Angels, Mulefa (sejenis mamalia berkaki empat), dan Gallivespians (manusia kerdil). Meski Lyra digambarkan berumur 12 tahun (di buku pertama), tapi seri HDM menurut saya ngga cocok buat anak kecil, karna ada muatan sadisme (adegan berantem dan makan daging mentah *yuch*), serta proses “dewasa”-nya Lyra dan Will (tokoh utama pria). Eh tapi 12 taun mah bukan anak kecil kali yah, tapi ABG ๐Ÿ˜€

Ceritanya seru dan kompleks, tapi kadang ritmenya terlalu cepet. Terlalu cepet aja setebel itu, apalagi klo ritmenya dilambatin yah, bisa berbulan-bulan kali saya ngabisinnya, hehehe. Dari nge-google, saya baru tau klo Pullman adalah atheis-agnostis, dan HDM disebut-sebut sebagai caranya dia meng-Atheis-kan anak-anak. Buat saya mah biasa aja, karna isu atheisme ngga dibahas mendalam, ngga bikin saya sebagai pembaca jadi tertarik buat mengeksplorasi lebih lanjut.

Overall verdict pantas dibaca.
Buat gambaran aja, ini sebagian penghargaan yang udah dimenangin HDM (sumber: Wikipedia):
– Whitbread Book of the Year award tahun 2001 untuk The Amber Spyglass. Whitbread adalah penghargaan prestisius bidang sastra di Inggris. Ini pertama kalinya penghargaan tersebut dimenangkan oleh buku yang masuk kategori “children’s literature”.

– Carnegie Medal kategori novel anak-anak di UK tahun 1995 untuk The Northern Lights. Tahun 2007 juga dipilih juri CILIP Carnegie Medal sebagai salah satu novel anak-anak paling menonjol dalam 70 tahun terakhir.

– Astrid Lindgren Memorial Award tahun 2005 untuk sastra anak dan remaja. Bagi bangsa Swedia, penghargaan ini adalah terbaik kedua setelah Nobel Sastra.

Foto sampul diambil dari
hxxp://ec1.images-amazon.com/images/I/51TS1XAVGXL.jpg

Ayat Ayat Cinta – The Novel

3 Mar
Ayat Ayat Cinta

Ayat Ayat Cinta

Saya beli novel ini tahun lalu di inibuku, toko buku online langganan saya. Agak ngga sengaja juga sih, karna niat saya cuma mau nggenepin total pembelian saya supaya gratis ongkos kirim (hehehe), dan Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata kurang mahal harganya. Berbulan-bulan nganggur, akhirnya beberapa minggu yang lalu posisinya pindah dari rak buku ke dalem tas kerja saya karna denger-denger filemnya mau beredar.

Setuju sama pendapat sebagian orang, buat saya AAC adalah novel roman dengan “bumbu” dakwah. Makanya terasa enteng dan best-selling, karna temanya populis, apalagi klo bukan tentang cinta. Tokoh utamanya adalah Fahri, mahasiswa S2 di Universitas Al Azhar (Mesir), dan beberapa perempuan yang tergila-gila sama dia, hehehe. Di novel ini diceritakan betapa Fahri berjuang keras untuk pendidikannya, serta menjaga diri dan imannya dari cobaan alam maupun manusia. Manusia ini termasuk perempuan-perempuan yang digambarkan mengharap cintanya, dan ada yang rela melakukan segala cara agar bisa menikah dengannya.

Setuju juga sama pendapat yang bilang kekuatan novel ini ada di penggambaran Mesir yang detil, jadi imajinasi pembaca bener-bener kebawa untuk memvisualisasikan keadaan yang sebenernya. Sayang, review orang-orang dan cerita sang sutradara tentang versi layar lebarnya malah ngga bagus, terlalu banyak adegan dalam-ruangan, bikin saya ngga tertarik untuk nonton filemnya.

Saya ngga terlalu terganggu sama penggambaran sosok Fahri yang “sempurna” (karna menurut saya dia ngga sempurna, hehehe). Yang buat saya agak mengganjal adalah hal-hal yang dilakukan oleh penggemar Fahri agar mendapatkan cintanya. Masa perempuan-perempuan solehah bisa berbuat seperti itu? Menurut saya agak ngga adil aja sih, Fahri yang soleh digambarkan “sesempurna” itu, sementara perempuan-perempuan solehah di sekelilingnya digambarkan “secacat” itu.

Secara keseluruhan, menurut saya ini novel yang bagus dan menghibur, alur ceritanya mengalir lancar, selipan dakwahnya juga menyejukkan bathin. Tapi klo belom pernah baca pun ngga usah sedih, Anda ngga terlalu rugi kok ๐Ÿ˜€

foto diambil dari
hxxp://www.pdat.co.id/hg/newbooks_pdat/2006/12/18/Ayat-Ayat%20Cinta.jpg

The Princess Diaries

24 Sep
The Princess Diaries

The Princess Diaries

Saya udah baca 7 buku seri The Princess Diaries (direncanakan bakal terbit sampai jilid 10) dan 1 buku sempilan berjudul Perfect Princess.

Princess Diaries bercerita tentang Mia Thermopolis, gadis biasa yang hidupnya berubah setelah bapak biologisnya (yang ternyata penguasa Genovia, kerajaan kecil dekat Perancis dan Monako) dinyatakan terkena kanker prostat dan tidak mungkin bisa punya anak lagi. Otomatis, Mia menjadi satu-satunya penerus tahta Genovia.

Mia yang cuek, ceroboh, dan pecinta lingkungan harus jadi Princess yang anggun, sopan, dan penuh kompromi. Dalam fase transformasinya ini, Mia “dibantu” oleh Grandmere (nenek) Clarisse, ibunda dari ayah Mia. Clarisse adalah nenek yang unik, hobinya minum Sidecar, mengelus-elus Rommel (anjingnya), dan “menyiksa” Mia ๐Ÿ˜€ Clarisse juga luar biasa cerdik, dan hampir selalu mendapatkan apa yang dia mau meski dengan cara-cara yang ngga wajar.

Dua karakter utama ini yang menghidupkan tiap novel TPD. Mia adalah gadis yang belum bisa mengaktualisasikan dirinya dengan tepat, jadi dia sering terperangkap pada situasi yang sebenernya dia ngga suka, tapi dia terpaksa harus jalanin karna dia ngga berani nolak. Clarisse sendiri adalah pribadi kuat yang mengajar Mia dengan tangan besi, meski in the end Mia juga yang merasakan dampak positifnya.

Berhubung Mia digambarkan sebagai anak SMA, cerita TPD ngga jauh dari kehidupan sehari-hari Mia di sekolah, serta pasca-sekolah, which is training menjadi Princess yang sesungguhnya dengan mentor Clarisse.

Sebenernya buku ini lumayan menghibur dan lucu, tapi saya pusing bacanya. Penuturannya dibikin kayak diary, jadi kita serasa baca buku hariannya Princess Mia (thus the title). Justru karna itulah saya pusing, karna Mia nulisnya ya gaya nulis remaja. Niatnya mau cerita A, trus di tengah jalan keinget B, jadi dia tulislah tentang B panjang-lebar, habis itu baru balik ke A. Kayak lagi ngobrol sama orang yang seneeeng banget cerita, tapi ceritanya ngga sistematis, pusing kan? Hmmm… jangan-jangan gaya nulis saya kayak gitu juga ya? :p

Harry Potter and the Deathly Hallows

7 Aug
Harry Potter and the Deathly Hallows

Harry Potter and the Deathly Hallows

Notifikasi dari multiply dateng waktu saya lagi baca bab 30. Wah, Chica udah bikin review, pikir saya dalam hati. Musti buru-buru ngabisin bukunya deh. Ignoring kerjaan yang numpuk di meja saya (OK, ngga numpuk banget sih, tapi ada beberapa itungan yang harusnya bisa saya selesein hari itu juga), saya kebut 90 halaman pdf yang masih nyisa.

Kayak review-nya Chica, saya juga ngga mau masukin spoiler di sini. Yang jelas buat saya, HP7 adalah buku penutup yang sempurna! Dia ngejalin alur yang ada di buku-buku sebelumnya dengan baik, bikin saya ngga nyesel udah meluangkan waktu untuk baca HP1 – HP6 (bukan berarti saya pernah nyesel baca HP lho…). Saya yang bukan die hard HP fan aja ngerasa seneng banget waktu baca, trus tiba-tiba muncul nama atau benda yang pernah dibahas di buku yang lalu (meski kadang sempat binun sejenak siapakah si anu, dan berniat baca ulang buku HP1 – HP6 dari awal :D). Mungkin agak kurang cocok klo baru kenal HP trus langsung baca buku ke-7 ini yah, soalnya pasti banyak bingungnya.

Endingnya juga saya suka, happy tapi ngga extremely happy. Jadi ngga otomatis all’s well and they live happily ever after. Ada beberapa orang yang harus mati demi membela kebenaran. Campur aduk deh, sedih, susah, senang, lucu, dsb. Actionnya juga full-packed, ngga berenti bikin wondering what would happen next sama pahlawan-pahlawan kita. Agak ngingetin saya sama Lord of the Rings, cuma klo di HP musuhnya cuma 1, ngga berbagai macam ras. Hehehe, bakal setebel apa yah bukunya klo JK Rowling masukin cerita tentang giants, merpeople, centaurs, inferi, dan mahluk-mahluk lain yang hidup berdampingan sama penyihir-penyihir itu?

Harapan-harapan (atau tebakan-tebakan?) saya juga terkabul di buku ini. Siapa merid sama siapa, siapa yang digambarkan jahat padahal deep down saya tau dia pasti ngga jahat. Yang agak ngga saya duga cuma masa lalu salah satu karakter yang ternyata juga manusia biasa, ngga luput dari ketidaksempurnaan.

In the end, saya cuma punya satu pertanyaan: Siapakah Victoire? Klo diliat dari namanya sih pasti anaknya Weasley – Delacour ๐Ÿ˜€

Bridge to Terabithia (The Novel)

28 Jun
Bridge to Terabithia

Bridge to Terabithia

Sebenernya udah niat mau nonton filemnya dolo sebelum baca bukunya. Tapi berhubung penasaran banget, “terpaksa” nontonnya ntar-ntar aja deh. Waktu liat poster filemnya, kirain BtT tuh cerita fantasi, kayak LotR dan temen-temennya gitu. Berhubung saya cinta banget sama fantasi, tentunya saya ngga akan ngelewatin buku ini.

Ceritanya tentang 2 tetangga sebelah rumah: Jesse (cowok) dan Leslie (cewek), kelas 5 sekolah Lark Creek Elementary yang sama-sama suka lari (bukan lari dari masalah, tapi lari beneran). Jesse anak ketiga dan cowok satu-satunya dari 5 bersaudara, sementara Leslie anak tunggal. Ayah Jesse kerja di kota dan keluarganya hidup sederhana, ortu Leslie penulis buku best sellers dan uang bukan masalah buat mereka. Meski begitu, di rumah Leslie ngga ada TV, bukan karna mereka ngga mampu beli TV, tapi karna mereka ngga mau.

Cara dia berpakaian, apa yang dia bawa buat makan siang, sampai keadaan rumahnya yang tanpa TV, bikin Leslie dianggap aneh dan dikucilkan sama temen-temennya, kecuali Jesse. Makin lama, Jesse dan Leslie makin deket, dan mereka sering main di hutan belakang rumah Leslie setelah pulang sekolah. Di sana, mereka bikin kerajaan khayalan bernama Terabithia, dengan Jesse dan Leslie sebagai raja dan ratunya.

Petualangan di Terabithia ngga banyak diceritain dengan detail. Ngga ada tuh yang namanya elf (atau paling ngga fairy lah), halfling / hobbit, orc, dwarf, atau hewan-hewin yang bisa ngomong. Tapi uniknya, waktu mereka ngadepin masalah di sekolah, Jesse dan Leslie meng-“convert”-nya jadi masalah di Terabithia, dan coba nyelesain secara raja dan ratu. Keren! In the end, both Jesse dan Leslie sama-sama jadi orang yang lebih baik karna support yang lain.

Gaya nulis Paterson di buku ini cenderung santai. Ngga ada bagian yang seruuu banget sampai saya ngga bisa berhenti baca. Tapi ngga ngebosenin juga sih. Adegan yang juga menarik adalah waktu Leslie ikut ke gereja bareng keluarga Jesse, gimana Paterson membahas religiusitas dari kaca mata anak-anak. Bab-bab terakhir buku ini justru saya baca di atas angkot, dan mata saya sempet berkaca-kaca karna terlalu menghayati jalan ceritanya. Kenapa mata saya berkaca-kaca? Klo mau tau, silakan baca bukunya sendiri, hehehhehe ๐Ÿ™‚

Jadi apakah ini buku cerita fantasi? Jawabannya: BUKAN! Jangan sampai terkecoh seperti saya yah ๐Ÿ˜€

Foto diambil dari hxxp://a0.vox.com/6a00c2252478c6604a00cdf3a7cb18cb8f-500pi

Tuesdays with Morrie

27 Jun
Tuesdays with Morrie

Tuesdays with Morrie

“Love wins. Love always wins.” –Morrie Schwartz

Beberapa bulan yang telah lewat, Dhani, sahabat yang nguli di pedalaman Nusa Tenggara lagi-lagi request untuk dikirimkan bacaan. Kali ini pilihannya jatuh ke Tuesdays with Morrie bikinan Mitch Albom. Bulan lalu, Dhani ngirim email tentang how wonderful the book was, dan bagaimana dia dan mamanya sama-sama seneng bacanya.

Saya jadi tergerak untuk ikutan baca. Jadilah selama beberapa hari kerja, di antara tumpukan dokumen proyek, saya temukan penghiburan di Tuesdays with Morrie.

Buku nonfiksi ini bercerita tentang hubungan antara Mitch Albom (sang penulis) dengan Morrie Schwartz, dosen Sosiologi di Universitas Brandeis. Morrie adalah dosen luar biasa yang mengajar dengan hati sekaligus menyentuh perasaan orang-orang yang pernah dia temui. Saat kuliah, Albom sangat dekat dengan Morrie, dan sering menghabiskan waktu bersama. Selepas kuliah, Albom lebih memilih untuk mengejar karir, dan untuk sesaat, melupakan nilai-nilai yang pernah dipelajarinya dari Morrie. Sebuah wawancara televisi yang memperlihatkan kondisi Morrie yang melemah akibat ALS (amyotrophic lateral sclerosis, sama dengan penyakitnya Stephen Hawking), seperti memanggil nurani Albom untuk menjenguk “sahabat” lamanya.

Dari sini cerita mengalir indah, tentang setiap hari selasa (thus the title) yang digunakan Albom dan Morrie untuk bercengkerama dan membahas tentang kehidupan, sampai akhirnya maut menjemput Morrie. Banyak pelajaran yang bisa diambil dari percakapan mereka, bikin saya berhenti sejenak every now and then, untuk merenungkan kata-kata Morrie.

Good book. Ngga terlalu berat, tapi tetep ninggalin kesan yang dalem.

Foto diambil dari hxxp://oz.nthu.edu.tw/~d907907/images/tuesdays%20with%20Morrie.jpg

%d bloggers like this: