Tag Archives: anime

Howl’s Moving Castle

26 Dec
Howl's Moving Castle

Howl’s Moving Castle

Another superb masterpiece by the master himself, Hayao Miyazaki. Howl’s Moving Castle (HMC) bercerita tentang penyihir muda nan ganteng bernama Howl, yang suka mempermainkan hati wanita-wanita cantik. Sophie yang sederhana ikut takluk pada pesonanya saat Howl menolongnya ketika diganggu oleh tentara kerajaan. Malamnya, penyihir jahat datang ke rumah Sophie dan mengutuk Sophie hingga Sophie berubah fisik menjadi wanita tua.

Tidak terima dengan kondisinya, Sophie memutuskan untuk kabur dari rumah dan menuju negeri asal penyihir jahat. Di tengah jalan, dia bertemu boneka jerami Turnip Head, yang menunjukkan jalan masuk ke HMC saat badai salju. Sejak saat itu, Sophie tinggal di HMC sebagai pembantu, sambil berusaha untuk mematahkan kutukannya.

Saya suka filem-filem keluaran Studio Ghibli, jadi mungkin review ini agak bias, hehehe. Nonetheless, saya selalu punya ekspektasi tertentu tiap nonton karya mereka, dan so far saya ngga pernah kecewa. Di HMC ini semua lengkap deh, imajinatif, menghibur, ada romance-nya dikit. Cuma kurang sedih dan mengharukan aja (lebih ke arah kelebihan sih, bukan kekurangan, karna saya lagi ngga mood nonton yang sedih-sedih). Yang buat saya sedikit mengganggu cuma ke-stereotype-an 2 tokoh utamanya: Howl yang ganteng tapi berandalan dan Sophie yang biasa saja tapi baik hati, akhirnya bersatu karna kekuatan cinta *hoek*

Anyway, filemnya bagus dan menghibur banget. Must see lah, apalagi buat yang ngga mind nonton filem animasi.

Foto diambil dari hxxp://www.impawards.com/2005/posters/howls_moving_castle.jpg

Advertisements

Grave of the Fireflies

22 Aug
Grave of the Fireflies

Grave of the Fireflies

SPOILER ALERT!

Saya (biasanya) ngga suka filem tentang perang, karna menurut saya filem perang cuma berisi dua hal:
– Kisah heroik manusia yang dihadapkan pada perjuangan hidup dan mati
– Humanisme yang berlebihan karna kontrasnya kehidupan yang keliatan jelas banget saat perang
Cuma, karna Grave of the Fireflies (GoF) berlindung di bawah nama besar Studio Ghibli, saya mau ngga mau harus masukin filem ini di agenda saya.

Sebelum nonton, saya udah prepare untuk nangis bombay karna banyak review yg saya baca nyebutin betapa sedih-sendu-mendayu-dayunya filem ini. GoF dibuka dengan adegan peron stasiun yang suram, dan beberapa mayat bergelimpangan di sana (suraaam bukan seraaam). Mayat-mayat tersebut adalah gelandangan yang mati karna ngga bisa makan, termasuk jagoan kita Seita. Seita (kayaknya 12 taun-an) dan adiknya Setsuko (kayaknya 3 taun-an) terpaksa tinggal sebatang kara karna ibu mereka meninggal saat pasukan sekutu menyerang Jepang. Ayahnya juga ngga bisa diharapkan karna sedang berjuang sebagai tentara AL Jepang.

Seita dan Setsuko numpang tinggal di rumah tante mereka di kota tetangga (kok terdengar seperti milis tetangga ya? halah…) yang relatif masih aman dari serangan bom. Awal-awalnya sang tante menyambut mereka dengan baik, apalagi waktu tau ibu Seita dan Setsuko mewariskan banyak makanan dan barang berharga buat anak-anaknya. Lama-kelamaan setelah semua barang habis kejual, tante mulai ngerasa keberatan sama mereka. Tante menyebut mereka pemalas, ngga seperti suami dan anak perempuannya yang bekerja dan belajar, pokoknya ngasih kontribusi lah buat The Empire.

Harga diri Seita terkoyak (haiyaaah…), dan dia mutusin untuk keluar dari rumah bersama Setsuko. Mereka tinggal di goa merangkap bunker di pinggir sungai, hidup dari sisa tabungan yang masih ada. Waktu uangnya habis, Seita kelabakan. Dia mulai mencuri dari rumah-rumah yang ditinggalin penduduknya, meski itupun ngga cukup. Kesehatan Setsuko makin menurun, dan akhirnya dia meninggal karna diare.

Cerita ini sad ending, karna semua orang akhirnya meninggal. Harusnya Seita ngga perlu tinggi hati dan menolak usul Pak Tani (ini maksudnya petani, bukan Mr. Tani) untuk balik ke rumah tantenya waktu Setsuko sakit parah, tapi mungkin GoF ngga akan sebagus ini jadinya klo plot itu yang dipilih 😀 Yang bikin sangat menyentuh adalah adegan flashback, waktu Seita nginget kenangan indah mereka sekeluarga sebelum perang, sama ngeliat keadaannya dan Setsuko saat itu. Sampai sekarang pun, klo saya nginget filem itu, tenggorokan saya rasanya gimana gitu, kayak ada biji kedondong yang nyangkut. A very powerful movie yang bisa nunjukin ke semua orang betapa kejamnya efek perang for the innocents.

@sYan, Agustus 2006

Oh iya, menurut wikipedia, kisah filem ini adalah semi-autobiografi dari sang penulis, Akiyuki Nosaka. Huhuhuhuhuhu, mau nangiiiiis…