Tag Archives: duck

Nasi Bebek Sinjay (Madura)

3 May

Nasi Bebek Sinjay

Sejak jaman Jembatan Suramadu baru dibuka, banyak warga Surabaya maupun luar kota yang rela menyeberang jembatan, khusus untuk makan di Sinjay. Itu tahun 2009 lho, dan popularitasnya masih bertahan sampai sekarang. Warung Nasi Bebek Sinjay selalu ramai, antrinya pun selalu panjang mengular. Namun sistemnya cukup bagus, setiap pelanggan yang datang bisa langsung ke kasir untuk memesan, dan mendapat nomor antrian. Tinggal menunggu di dekat tempat mengambil makanan sampai nomor kita dipanggil, lalu bebek lezat siap disantap. Penuh dan umpel-umpelan sih, tapi antriannya teratur dan ngga akan diserobot.

Bebeknya memang patut ditunggu. Berukuran sedang dan ngga kurus kering, digoreng garing tapi masih terasa tekstur bebeknya. Bumbunya meresap sampai ke dalam, ditambah serundeng berbumbu yang ditabur di atas nasi. Yang ngga kalah dahsyatnya adalah sambel pencit dari mangga muda. Rasanya pedes dan asem, meledak di mulut, hehehehe.

Menurut informasi di box pembungkus, Nasi Bebek Sinjay punya beberapa cabang di Surabaya dan sekitarnya, kayak Pasuruan dan Malang (harus dicek lagi, masih buka apa engga). Saya pernah dengar ada cabang di pinggiran Jakarta sih, padahal ngga ada alamatnya di box Sinjay. Pas googling yang cabang Jakarta itu, kok di bawah logo Bebek Sinjay ada nama orang. Mungkin itu kerabat/mantan koki yang memutuskan untuk buka cabang sendiri, hehehehe.

 

Nasi Bebek Sinjay
Jl. Raya ketengan 45 Burneh,
Bangkalan, Madura

Advertisements

Nasi Bebek Madura Kalibata City

30 Aug

Nasi Bebek

Kalau saya lagi di Kalibata City dan bingung mau makan malam apa, Nasi Bebek Madura selalu jadi andalan. Bebeknya empuk dan diungkep dulu sebelum digoreng, sehingga bumbunya meresap sampai ke dalam. Disajikan di atas nasi pulen, lalu disiram bumbu cokelat yang pedas. Enak banget dan harganya ngga masuk akal, seporsi 16rb saja. Buat saya, ini salah satu nasi bebek madura terbaik yang pernah saya makan.

Warung kaki lima ini terletak di dekat pagar samping komplek Kalibata City (Jl. Rawajati Barat). Kalau melintas di Jl. Raya Kalibata dari arah Cililitan, sesudah rel kereta bisa langsung belok kiri, warungnya ada di sisi kanan. Posisinya di samping penjual pecel lele dan ayam yang cukup mencolok karena lapaknya lebar, sementara nasi bebek ini kecil namun (biasanya) selalu ngantri. Tidak perlu membawa mobil karena ngga ada parkiran, mau parkir di Kalibata City juga susah, hahahaha. Naik ojek ajalah, atau taksi turun di depan. Warung buka mulai menjelang jam 6 sore, dan sebelum jam 10 malam sudah bersih-bersih.

 

Nasi Bebek Madura
PKL Samping Kalibata City
Jl. Rawajati Barat, Jakarta Selatan
Kalau pakai google maps kurang lebih di sini

 

Iga Bakar Aji Anom (Bandung)

10 Feb

Aji AnomSetau saya, Bali ngga terkenal dengan olahan makanan berbasis daging kambing. Makanya agak gimana gitu waktu pertama kali dengar soal Iga Kambing Bakar Bumbu Bali. Pas makanannya datang dan dicoba, ternyata ngga salah juga klo Pak Aji Anom menyebut masakannya sebagai Iga Bumbu Bali.

Iga kambingnya dibumbui dengan medok, dengan rasa pedas yang ngga malu-malu. Diungkep lalu dibakar dengan sempurna: empuk, mrotoli, dan ngga gosong. Disajikan dengan sambal matah, sambal kecap, juga sayur khas Bali yang suka nongol kalau makan nasi campur. Dan semuanya pedasss. Sesungguhnya satu porsi nasi + Iga Bakar ini sudah cukup mengenyangkan, tapi demi kepuasan lidah, kalau makan barengan, saya suka menambah 1 porsi Iga Bakar untuk dicuwil bersama.

Tanpa bekal GPS, kemungkinan akan sulit menemukan warung ini. Patokannya adalah masuk Jl. Dipati Ukur dari BCA Dago (dekat perempatan Jl. Ir. H. Juanda/Dago – Jl. Surapati), 300m kemudian ada belokan kanan pertama, itu sudah masuk Jl. Panatayuda. Kemudian di sisi kanan ada jejeran warung, langsung belok kanan karena posisi Warung Aji Anom yang menghadap taman segitiga. Untuk menjamin keberadaan Iga Bakar-nya, sebaiknya tidak datang menjelang malam. Tapi kalau iganya habis, Aji Anom punya Ayam dan Bebek Betutu yang juga ciamik rasanya.

 

Warung Aji Anom
Jl. Panatayuda No 11, Bandung
Telp: (022)2503737

The Duck King

20 Oct

Sudah sejak lama saya mengincar The Duck King (TDK) sebagai tujuan gastronomic adventure saya. Namun, karna beberapa kali ke Plasa Semanggi selalu either:
– bukan pada jam makan
– dalam kondisi *hemat-karna-kebanyakan-belanja-baju-di-centro mode ON*
– perginya bareng temen cewek yang notabene ngga bisa dikilik-kilik buat nraktir 🙂
maka keinginan saya yang satu itu blom pernah kesampaian.

Pada suatu sabtu di bulan ramadhan, saya bersama Buzz (lebih tepatnya: ditemani Buzz :D) berniat browsing baju di Centro. Selama browsing, ngga terasa jarum jam tangan kami berdua udah melewati angka 5. Saya bergegas mengajak Buzz bersiap mencari resto untuk berbuka puasa. Urusan pemilihan resto *tentu saja* Buzz serahkan kepada saya.

Pilihan pertama saya adalah Platinum, resto yang udah ngetop sebagai very good value for money. Tapi, berhubung sudah dekat jam 5.30, seperti yang saya duga, Platinum sudah penuh luar-dalam (luar = pengantri tempat duduk) :p

Ah, mungkin memang nasib saya yang “harus” makan di TDK. Ndilalah juga, TDK yang biasanya susah banget dicari *secara posisinya ngga ngumpul sama resto-resto lain* kok hari itu penunjuk jalannya pops di depan mata saya. Ngga pake nyasar, pusing bin binun, dalam sekejap kami berdua udah berdiri di depan resto.

Klo dari luar bagian samping, pemandangan TDK adalah bebek-bebek panggang berwarna kemerahan yang digantung *jahat ya Buzz? :)*. Tapi di dalamnya OK kok, kursi-kursi nyaman dan meja ukuran besar, plenty of mirrors, lengkap dengan pelayan yang berseliweran dengan seragam berwarna merah & hitam. Interiornya comforting tanpa harus ribet, dan jelas ngga minimalis kayak kebanyakan resto jaman sekarang *huh*

Saya pesan Nasi Hainam TDK, sementara Buzz memilih Nasi Goreng TDK. Untuk minumnya saya pilih jasmine tea serta jus buah campur (duh, lupa namanya), Buzz memesan teh manis hangat dan jus buah juga (lupa juga namanya). Mereka juga nyediain complimentary bubur kacang ijo, dan asinan buah-sayur (pedez) buat ngebatalin puasa.

Ngga berapa lama, minuman kami dateng duluan. Jus buahnya datang di gelas tinggi, dijamin puas deh minumnya. Teh melati saya disajikan lengkap dengan poci gede & gelas keramik, sementara gelas teh manis Buzz guedeeeeeeeee banget, lebih gede dari gelas di Chili’s *klo gini mah ngga free-flow pun ngga rugi deeeh*. Jus saya okeh, harmoni rasanya lucu dan ngga ada buah yang asem. Teh melatinya mirip teh hijau, ngga manis dan di ujung tegukan saya bisa cium aroma melati yang meresap dalam kerongkongan. Light dan ngga annoying. Saya ngga coba minumannya Buzz, tapi tampaknya sih dia puas.

Selanjutnya main course, nasi hainam buat saya dan nasi goreng buat Buzz. Nasi hainam saya predictable, dengan beberapa potong daging bebek panggang di sisinya. Kulit bebeknya krispi dan meresap bumbunya, tapi lho kok agak amis? Duh, ngga sesuai sama review nih. Di tengah-tengah makan, saya melirik Buzz yang ternyata dalam kondisi wajah kemerahan akibat nasi gorengnya yang terlalu pedas. Saya mengusulkan (baca: memaksa) untuk switch plates, biar saya yang habiskan nasi goreng pedas itu sementara Buzz makan nasi hainam saya. Nasi gorengnya enaaak, klo buat saya mah pedesnya pas, sedikit di atas rata-rata tapi masih tolerable. Dikasih potongan cengek (yang ini saya hindari), irisan bebek, sayur2an potong, dengan bumbu medok kayak nasi goreng jawa. Sayang, selera makan Buzz udah hilang, jadi dia ngga habisin makanan (saya), malah ngabisin teh manis sejerigen yang tadi udah saya ceritain :p

Total kerusakannya saya ngga tau, karna bon langsung diambil alih sama Buzz *he is such a gentleman :D*, tapi prediksi saya sih sekitar 150an deh. Saya pribadi puas makan di sini, karna meski harga makanannya sedikit di atas standar (main course mulai dari 30 ribuan, minum 20 ribuan, excluding taxes), tapi porsinya yang nendang dan rasa yang OK bikin ngga kecewa deh. Kecuali bebeknya yang anomali 😦 Next time klo ke sini, ngga boleh lupa tanya kadar kepedasan makanannya, soalnya di menu ngga ada gambar cabenya 😀

The Duck King
Plasa Semanggi lt. 3
Jakarta Pusat

Bebek Bali (Cikarang)

24 Oct
Bebek Bali

Bebek Betutu

Sebagai engineer, salah satu tugas saya adalah melakukan kunjungan ke pabrik-pabrik yang termasuk dalam vendor list untuk proyek kami. Siang itu, jadwal saya menunjukkan sebuah produsen MCC di Cikarang sebagai tujuan shop visit. Beruntung hari itu saya mengenakan pakaian yang nyaman, karena suasana pabrik pasti jauh berbeda dengan kantor yang sedingin kulkas :p

Di Cikarang, agenda pertama adalah meeting sebentar untuk mengklarifikasi beberapa item pesanan yang belum fixed. Selanjutnya kami masuk ke pabrik yang -sesuai bayangan saya- agak panas dan bising. Seperti biasa, saya menjadi satu-satunya perempuan di sana. Namun demikian, saya ngga mengalami perlakuan yang melecehkan, mungkin karena saya adalah klien mereka 😀

Setelah beberapa jam berkutat dengan pemandangan assembly MCC, tiba waktunya makan siang. Menurut kabar yang tersiar (dan terbukti valid), vendor MCC ini biasanya mengajak kliennya makan di restoran Bebek Bali Lippo Cikarang. Hmmm, sounds great, pikir saya (waktu itu wabah flu burung belom merebak).

Hanya memakan waktu beberapa menit untuk keluar dari area kawasan industri dan menuju Lippo Cikarang. Resto Bebek Bali sendiri terletak berdampingan dengan Waterboom Cikarang. Impresi pertama ketika masuk ke restorannya adalah, cantik sekali. Ukir-ukiran kayu, kain bali dan taplak bermotif sarung bima (seperti papan catur) menghantar imajinasi pengunjung ke pulau seribu pura itu. Musik gamelan Bali yang menemani makan siang juga enak didengar, a definite relief dari bisingnya metropolitan dan pabrik yang baru kami kunjungi (hehehehhehe :D)

Bagian belakang resto dihias dengan jendela-jendela kaca yang memanjang sampai ke lantai, sehingga pemandangan kolam renang dan taman yang teduh dan asri bisa langsung tertangkap. Penerangan buatan dalam resto sendiri cenderung minimal, mengoptimalkan cahaya alami yang masuk dari luar. Kami bertujuh (klo ngga salah inget :p) memilih duduk di tengah, ngga jauh dengan panggung yang saat itu kosong.

Selain masakan dari bebek sebagai andalan, resto Bebek Bali juga menyediakan beberapa pilihan masakan internasional dan sedikit masakan Indonesia. Harga makanannya cenderung mahal, sekitar 40K-an untuk bebek-bebekan, serta 20K-an untuk minuman. Siang itu, saya memilih Bebek Betutu Panggang, karena kurang tertarik dengan Steak Bebek anjuran vendor kami. Untuk minumnya, saya memesan punch khas Bebek Bali (sudah lupa namanya ^_^).

Bebek Betutu-nya hadir dengan nasi putih, urap sayuran, dan kerupuk udang. Kualitas bebeknya yahud, dengan tingkat kealotan yang bersahabat. Bumbu perendam dan pemolesnya juga prima, meresap hingga ke daging bebek. Sayang sekali, tulang bebek yang banyak cukup mengganggu kenyamanan makan siang saya. Seandainya bebeknya di-presto dulu, mungkin jauh lebih enak (hehehhehehe :D), pikir saya dalam hati. Sayang sekali yang kedua adalah keseluruhan rasa manis pada menu yang saya pilih, bahkan urap-nya pun ngga pedas. Saya pribadi bukan pecinta pedas yang ekstrim, tapi sedikit sensasi pedas di lidah sangat mendongkrak rasa masakan yang saya makan. Di meja teman saya, saya melihat sambal matah dan saya sempat kecewa, kenapa ngga milih menu yang sama kayak dia :p

Sesudah makan, kami menyempatkan untuk mengobrol-ngobrol ringan di luar pekerjaan. Sambil memandang ke arah kolam renang yang sejuk, waaaah… enak banget kayaknya siang-siang berendam 😀

Bebek Bali Resto, Café, & Gallery
Jl. Madiun Kav. 115
Lippo Cikarang
Tlp 021 – 8990 7816, 021 – 8990 7818
Fax . 021 – 8990 7815

Cabang lain di Jakarta: Taman Ria Senayan dan Mal Kelapa Gading.
Di luar Jakarta: Batam, Medan, Malang, dan Bali.

%d bloggers like this: