Tag Archives: Bandung

Miss Bee Providore (Bandung)

22 May

 

Miss Bee Providore adalah salah satu tempat yang sering saya dengar/baca rekomendasinya, baik dari teman-teman maupun dari internet. Ketika saya masuk dari area parkiran mobil, yang pertama terlihat adalah resto mungil bernama Rabbit Hole, yang keliatan penuh pernak-pernik. Tapi berhubung niatnya emang mau ke Miss Bee, jadi saya skip aja. Belakangan saya tahu bahwa Rabbit Hole menjual waffle, bahn mi (Vietnamese sandwich), dessert, dan aneka minuman.

Saya naik ke bangunan utama Miss Bee Providore yang terdiri dari 3 area duduk: di dalam ruangan, di luar ruangan, dan di dalam rumah kaca. Berhubung saya datang jam 11 dan paginya udah sarapan buffet di hotel, saya ngga pesan makanan utama. Saya memilih Portobello Mushroom Fries, yang terbuat dari jamur portobello yg dipotong-potong, lalu dilumuri adonan tepung sebelum digoreng. Porsinya cukup besar, disajikan dengan saus tartar dan saus asam-manis a la Thai, serta seporsi salad sayuran yang ngga basa-basi. Jamur gorengnya garing, bumbu kulitnya pas, saladnya juga enak dan segar.

Untuk makanan penutup, saya mencoba menu dari Rabbit Hole yang ternyata bisa dipesan langsung ke pramusaji Miss Bee. Saya kepingin Frozen Profiteroles, kulit sus yang ditumpuk di atas 1 scoop eskrim, lalu diberi serutan cokelat, kacang almond, dan dimakan dengan saus cokelat. Pas datang ternyata ada 3 profiteroles ukuran jumbo yang cukup untuk dibagi bertiga. Berhubung cuma datang berdua, yang niatnya cuma ngemil malah jadi kekenyangan, hahahaha. Total pengeluaran untul 2 makanan di atas + 2 minum ngga sampai 200rb.

Di halaman Miss Bee ada taman dengan mainan anak dan kandang berisi kelinci-kelinci lucu. Di dekat area duduk juga ada area bermain anak. Cocok sekali untuk didatangi bersama keluarga. Makanan dan minumannya enak, harga masuk akal, pelayanannya baik. Suasana resto juga nyaman, serta cantik untuk difoto. Ngga heran kalau Miss Bee Providore banyak dapat rating bagus di situs-situs pribadi maupun kuliner.

 

Miss Bee Providore
Jl. Rancabentang No.11A, Ciumbuleuit, Bandung
Buka setiap hari jam 7 – 23

Rabbit Hole
Jl. Rancabentang No.11A, Ciumbuleuit, Bandung
Buka setiap hari jam 10 – 21
Rabbit Hole Menu, Reviews, Photos, Location and Info - Zomato

Lawangwangi Café (Bandung)

3 Aug

Lawangwangi

Lawangwangi sesungguhnya adalah sebuah galeri, yang salah satu sisinya diubah menjadi kafe. Jadi ketika masuk ke area bangunan, yang pertama akan dijumpai adalah galerinya. Koleksinya menarik, bahkan untuk awam seni seperti saya. Selain menjual benda seni besar seperti lukisan, ada juga barang-barang kecil seperti tas dan pernak-pernik.

Sisi kafenya “berdinding” kaca, jadi pengunjung bisa makan sambil menikmati panorama Bukit Dago yang asri. Di luarnya ada jembatan mirip dermaga kecil yang selalu jadi obyek foto favorit. Interior kafe berisi kursi-kursi dan sofa-sofa yang nyaman, membuat pengunjung betah berlama-lama. Meski kapasitasnya besar, kafe ini selalu penuh saat akhir pekan. Saya datang sekitar jam 3 sore aja ada waiting list.

Makanannya cukup variatif. Ada menu nongkrong seperti nachos dan singkong goreng, sampai makanan berat kayak steak, ayam bakar, maupun pasta. Harga makanan dan minuman sesuai standar kafe, mulai 40rb-an untuk main course dan 20rb-an untuk minumannya. Rasa makanan juga lumayan enak, jadi cukup balance antara suasana kafe, panorama, serta rasa makanan. Definitely will come back again.

 

Lawangwangi Café
Jl. Dago Giri No. 99A – 101, Bandung
Buka setiap hari kecuali senin, 10AM – 10/11PM
http://lawangwangi.com/cafe/

Lawang Wangi Menu, Reviews, Photos, Location and Info - Zomato

Iga Bakar Aji Anom (Bandung)

10 Feb

Aji AnomSetau saya, Bali ngga terkenal dengan olahan makanan berbasis daging kambing. Makanya agak gimana gitu waktu pertama kali dengar soal Iga Kambing Bakar Bumbu Bali. Pas makanannya datang dan dicoba, ternyata ngga salah juga klo Pak Aji Anom menyebut masakannya sebagai Iga Bumbu Bali.

Iga kambingnya dibumbui dengan medok, dengan rasa pedas yang ngga malu-malu. Diungkep lalu dibakar dengan sempurna: empuk, mrotoli, dan ngga gosong. Disajikan dengan sambal matah, sambal kecap, juga sayur khas Bali yang suka nongol kalau makan nasi campur. Dan semuanya pedasss. Sesungguhnya satu porsi nasi + Iga Bakar ini sudah cukup mengenyangkan, tapi demi kepuasan lidah, kalau makan barengan, saya suka menambah 1 porsi Iga Bakar untuk dicuwil bersama.

Tanpa bekal GPS, kemungkinan akan sulit menemukan warung ini. Patokannya adalah masuk Jl. Dipati Ukur dari BCA Dago (dekat perempatan Jl. Ir. H. Juanda/Dago – Jl. Surapati), 300m kemudian ada belokan kanan pertama, itu sudah masuk Jl. Panatayuda. Kemudian di sisi kanan ada jejeran warung, langsung belok kanan karena posisi Warung Aji Anom yang menghadap taman segitiga. Untuk menjamin keberadaan Iga Bakar-nya, sebaiknya tidak datang menjelang malam. Tapi kalau iganya habis, Aji Anom punya Ayam dan Bebek Betutu yang juga ciamik rasanya.

 

Warung Aji Anom
Jl. Panatayuda No 11, Bandung
Telp: (022)2503737

From Bandung with Love

24 Mar
From Bandung with Love

From Bandung with Love

Karna judulnya garing, saya agak pesimis waktu masuk ke bioskop yang muter film ini. Tapi klo dipikir-pikir, film Indonesia jaman sekarang kan emang kebanyakan judulnya garing, jadi ngga keluar pakem juga, hehehe.

Film dibuka dengan adegan penyiar Radio 99ers Bandung bernama Vega yang lagi bawain acara From Bandung with Love (FBL), program mingguan yang ngebahas cinta. Minggu itu temanya Hubungan dengan Mantan Pacar, dan kayak siaran radio beneran, Vega juga menerima curhat-an dari pendengarnya lewat telpon.

Pulangnya, seperti biasa Vega dijemput oleh Dion, teman kuliah cum pacarnya yang baiiik banget *duh*. Sampe rumah, Vega terima telpon dari Wulan, sahabatnya, yang tersedu-sedu di ujung sana karna pacarnya selingkuh sama teman kostnya sendiri. Habis itu tercetuslah ide di benak Vega buat mengusung tema Kesetiaan untuk sesi FBL berikutnya.

Karna dedikasi sama kerjaannya, Vega selalu melakukan riset dulu sebelum siaran. Dion yang tau rencana tema FBL minggu depan mempertanyakan niat Vega, karna soal selingkuh dan kesetiaan adalah tema yang sensitif, dan ngga semua orang mau bicara terbuka tentang pengalaman hidup yang satu itu. Vega tetap optimis sama temanya dan berusaha cari cara untuk riset.

Selain kuliah dan siaran, Vega juga kerja lepas di perusahaan periklanan Dolphin sebagai copywriter. Untuk proyek terakhir, bosnya masangin dia sama Ryan, creative director yang dikenal playboy dan sering makan korban, termasuk cewek-cewek di Dolphin (cuma 2 orang selain Vega). Sel-sel kelabu di otak Vega langsung bekerja *Hercule Poirot kaleee*, dan Vega bertekad ngejadiin Ryan sebagai obyek risetnya.

Awalnya Vega yang mancing, ngajak Ryan ngopi-ngopi sambil ngomongin kerjaan. Ryan yang bisa baca gelagat, besoknya ngga malu-malu lagi ngajak Vega makan malam. Karna kedekatan mereka, Vega lama-lama naksir beneran sama Ryan. Teganya, waktu Dion jemput ke kantor, Vega ngaku ke Ryan bahwa Dion adalah temen kuliahnya, period. Waktu Vega ditanya sama Dion, apa Ryan adalah cowok playboy yang mau dijadiin obyek risetnya (Vega udah cerita ke Dion soal rencananya), Vega malah mengelak.

In the end, siapakah yang akhirnya Vega pilih?

Saya yang pesimis di awal, mau ngga mau harus tersenyum kecil waktu keluar dari ruang bioskop. Ceritanya sederhana dan gampang ditebak, tapi saya cukup terhibur. Meski akting pemainnya pas-pasan, chemistry-nya kurang kuat antara tokoh Vega dan Ryan, tokoh Dion yang terlalu *lemah*, aksen Sunda yang tipiiis banget dari keseluruhan pemain, tapi endingnya bagus! Hehehe, saya bukan pecinta film happy-ending-tapi-maksa, jadi buat yang satu ini pasti agak bias. Yang agak mengganggu ya itu, ngapain jauh-jauh dibikin di Bandung dan dikasih judul From Bandung with Love, klo atmosfir Bandungnya hampir ngga terasa (kecuali tulisan Universitas Katolik Parahyangan segede gaban di salah satu adegan).

Simpulannya saya puas. Ngga masuk kategori must-see sih, tapi lumayan lah daripada Kuntilanak 3 :p

Foto diambil dari hxxp://www.21cineplex.com/images/film/film18281.jpg

Warung Surabi Imut (Bandung)

24 Oct
Surabi Imut

Surabi Ayam Sosis Spesial

Berat sekali tugas saya, tengah hari bulan puasa, di antara rasa lapar yang sedang gencar menyerang, saya harus mengulas tentang Surabi Imut, salah satu tempat jajan favorit saya di Bandung. Yah, meskipun begitu, saya harus tetap tegar. Tidak boleh menyerah dengan setan-setan lapar yang menggoda. Lagian mumpung kerjaan lagi ngga banyak, sambil mengejar ketinggalan saya yang udah lama ngga posting di multiply 😀

Sesuai dengan namanya, Surabi Imut menjual surabi atau serabi sebagai hidangan utamanya. Buat yang ngga doyan surabi, mereka juga menyediakan colenak (sejenis tape bakar yang diberi gula merah), pisang bakar, roti panggang, bahkan saya juga melihat gubuk (a.k.a food stall) pempek di dalam kedai makan tersebut. Untuk minumnya, mereka menyediakan susu murni aneka rasa, yoghurt, jus buah, dan berbagai minuman dalam kemasan.

Berbeda dengan vendor lain, Surabi Imut menyajikan surabi dengan puluhan variasi topping. Mulai dari yang standar seperti surabi oncom, sampai yang ekstra-modif macam surabi ayam sosis keju spesial (hayyyah!). Dari genre manis pun pilihannya bermacam-macam, ada yang dengan vla stroberi, cokelat, kacang, dsb. Hmmm… kinda reminds me of tukang martabak yang dulu jualan di Pasar Balubur lama, pilihan isiannya ada kali bangsa 30 macem :p

Terakhir kali mampir ke sana, saya minta dibungkusin surabi ayam sosis spesial (SASS) dan surabi cokelat susu (SCS). SASS saya dibungkus dalam kotak styrofoam ukuran singel, sedang SCS saya dikemas dalam kotak plastik yang memungkinkannya untuk memuat 2 buah surabi secara sejajar. Kedua jenis makanan itu saya ajak menempuh jalan tol Cipularang dan pulang ke rumah orang tua saya di Jakarta.

Sampai di Jakarta, SCS-nya sudah dingin, bentuknya sudah ngga karuan, vla susunya meleleh ke mana-mana, bagian atas surabinya juga gepeng tertekan kemasan plastik, dan messes (muisjes) cokelatnya ikut menempel di plastiknya. Wah, saya jadi ngga berselera memakannya.

On the other hand, SASS-nya masih menunjukkan jejak-jejak hangat. Bentuknya pun masih utuh dan cantik, surabi mulus dengan topping potongan sosis dan suiran daging ayam yang ngga pelit (baca: generous). Dalam kemasan yang sama, saya juga menerima 1 sachet saus pedas dan… krim ayam! Krim ayam ini saya duga terbuat dari susu, sedikit tepung, kaldu ayam, dan bumbu-bumbu yang dimasak sampai mengental. Saya menuang seluruh krim ke atas surabi, lalu saus pedas, dan saya aduk-aduk agar bercampur. Saya sengaja menggunakan sendok kecil supaya ngga cepat habis 😀

Sendokan pertama… enaaaak! Surabi yang rasanya gurih cenderung tawar, dicampur krim ayam + saus yang gurih-asin-pedas, dengan serpihan sosis dan ayam dalam setiap gigitan, menyempurnakan tekstur dan rasa surabi secara keseluruhan. Untung orang tua saya belum datang, jadi 1 porsi surabi itu habis saya makan sendiri (pelit mode ON). Meski bentuknya imut standar surabi biasa, tapi SASS benar-benar mengenyangkan. Perpaduan rasa surabi, topping, dan krim sangat sempurna untuk 1 porsi, tapi saya curiga klo makan 2 porsi, rasanya pasti mblenger (kekenyangan karena eneg).

Surabi Imut menyediakan puluhan variasi surabi dengan harga antara 1000 – 5000an. Jangan tertipu dengan tampilan luarnya, karena meski tidak terlihat meyakinkan, surabi ini sangat mengenyangkan. Untuk cewek dengan porsi makan standar, hendaknya mencoba 1 porsi dulu, klo masih kurang baru nambah 😀

Oh iya, Warung Surabi Imut terletak di sisi kiri Jl. Setiabudi, beberapa puluh meter sesudah KFC Setiabudi (klo datang dari Cipaganti). Jika parkiran di depan warung penuh, sangat disarankan untuk parkir di area depan KFC. Selain Surabi Imut, di sekitar situ juga ada Beta Surabi (or something like that) dan Surabi NHI (enhai) yang juga menjual penganan yang sama. IMHO, Beta Surabi agak mahal dalam mematok harga, mungkin karena tempatnya yang lebih mirip restoran ketimbang warung. Surabi NHI sendiri setahu saya berdiri lebih dahulu daripada Surabi Imut, tapi sepertinya kalah populer dibanding saingannya yang lebih muda. Saya pribadi ngga tau kenapa, soalnya saya baru sekali ke sana. Itu pun gara-gara Surabi Imut udah tutup (some Saturday night, padahal jam di tangan saya baru nunjukkin pukul 8.30), dan saya udah ngga ingat lagi gimana rasanya :p

Wah, udah hampir jam 4. Waktunya beresin meja n siap-siap pulang. Happy weekend!

WARUNG SURABI IMUT
Jl. Setiabudi
Bandung – Jawa Barat
HP: 0812-2173722

Mini Toast Merbabu (Bandung)

31 Aug
Toast Merbabu

Toast Merbabu

(inspired by Cindy’s writing)

Terprovokasi oleh tulisan Teh Cindy tentang toko roti Merbabu, saya ikut-ikutan pengen nyobain mini toast-nya (sebenernya di bungkusnya tertulis “toast”, tapi karna kecil, saya sebut mini toast aja yaaaa…) yg kesohor itu. Pucuk dicinta, ulam pun tiba, saya menerima undangan pernikahan dari teman kuliah saya yang masih berdomisili di Bandung. Fully aware dengan resiko bakal ditanya: “Kapan nyusul…?” pada saat datang kondangan nanti, saya nekat berangkat ke Bandung.

Yang saya inget dari review Teh Cindy adalah lokasi Merbabu terletak di Jl. Karang Mulya, di belakang resto Ikan Bakar Cianjur (IBC) cabang Setiabudi. Berhubung ngga pernah merhatiin daerah situ, saya agak-agak lupa, IBC teh bukannya yang seberang STPB (was: NHI)? Begitu ngelewatin Hero Flamboyan, di antara rindangnya pepohonan, saya ngeliat plang ukuran sedang bertuliskan: “Ikan Bakar Cianjur [tanda putar balik] 200m”. Weh, kok puter balik? Apa IBC punya dua cabang di Jl. Setiabudi? Anyway, saya manut saja sama plang itu, toh kalo salah kan tinggal puter balik lagi di Hero Flamboyan.

Hanya beberapa puluh meter sesudah putaran balik, saya sampai di Jl. Karang Mulya. Jalannya sempit, cuma muat 1 mobil dan di ujungnya diberi tonggak agar tidak ada mobil masuk dari sisi lain. Hmmm… bener ngga ya? Kok ngga ada plangnya? Yang ada malah plang Pempek Palembang :p Mengikuti saran Teh Cindy juga, saya menuju IBC, dan cari info ke tukang parkir di sana. Ternyata memang Merbabu terletak di jalan kecil itu, persis di belakang IBC. Setelah memarkir mobil di IBC, saya berjalan menuju Jl. Karang Mulya tadi.

So far so good, saya melihat jajaran rumah penduduk di belakang IBC. Rumah… rumah… rumah… ahh… ada semerbak aroma roti saat saya melewati bangunan yang bentuknya seperti bagian belakang rumah dengan pintu besi berwarna hijau di sisi kiri jalan. Klo di sini belakangnya, di mana depannya ya? Dirunut sampai ke ujung jalan, saya tidak menemukan bagian depan dari “The Mysterious Green Door”, padahal saya haqqul yaqqin klo the door leads to Merbabu. Iseng-iseng saya bertanya sama orang lewat, “Mbak, klo toko roti Merbabu di sebelah mana ya?”. Mbak itu, meski dia bilang orang baru dan belum terlalu kenal daerah situ, menjawab, “Hmm… mungkin di sini ya…” sambil mengajak kami untuk mengikutinya. Ternyata oh ternyata… Merbabu letaknya persis di seberang si pintu hijau!

Dari luar, toko roti ini sama sekali ngga kentara (stealth mode kaleeeee :p). Bener kata Teh Cindy, cuma ada tulisan Buka/Open di depan rumahnya. Begitu saya masuk, saya langsung disambut oleh etalase berisi tumpukan kue-kue siap dibawa pulang (tapi bayar dulu tentunya), bertoples-toples sampel mini toast, serta penjaga (atau pemilik ya?) toko yang super-duper ramah. Si cici langsung menjelaskan roti apa saja yang mereka punya sambil menawarkan saya untuk mencoba sampel mini toastnya. Berhubung perut masih kenyang (d*mn!), saya “cuma” mencoba toast garlic, lemon, dan stroberi. Meski toast lemon dan stroberi-nya yummy, tapi saya, karna ngga begitu suka roti manis, hanya membeli toast garlic, pizza dan keju. Teman saya ikut-ikutan membeli item yang sama, plus bagelen basah, roti manis rasa keju dan sarikaya. Salah satu yang agak disesalkan adalah kami datang jam 12an, padahal kiriman roti segar berikutnya datang jam 2an.

Sesampainya di Jakarta, saya langsung menunjukkan harta karun saya ke orang rumah, tadaaaaa… Yang pertama kami buka adalah toast pizza. Kualitas rotinya tidak perlu dikomentari, renyah banget tapi ngga keras alias lembut di mulut. Satu-satunya kelemahannya, IMHO, adalah sisa-sisa kunyahan yang nyelip di gigi, jadi klo habis makan harus buru-buru kumur-kumur air putih. Tapi saya ngga tau juga, ini karena tekstur rotinya atau tekstur gigi saya yang jarang-jarang :p Aaaaanyway, topping bumbu pizzanya cucok sekali, saus tomatnya ngga terlalu haseum, bumbu-bumbunya nendang di lidah, definitely my favourite among the three.

Toast kejunya klo kata saya mah kurang cheesy. Cuma setelah dipikir-pikir, ngga kebayang juga mau kayak apa jadinya klo segitu dibilang kurang cheesy :p Yang agak mengecewakan malah toast garlic-nya karena keasinan.

Secara keseluruhan, gembolan saya kali ini lumayan sukses merebut hati orang rumah yang biasanya selalu minta dibeliin keripik-keripik-an di Pasar Balubur. A definite must-buy untuk oleh-oleh dari Bandung. Saya perhatikan, toast lagi kondang ya di Bandung? Paling tidak saya menemukannya (dalam bentuk, merk, dan kemasan yang berbeda) di Kedai Timbel Dago dan Toko Roti Bawean. JS Bandung mungkin bisa memberi pencerahan? Oh iya, keesokan harinya ketika saya mampir di Surabi Imut Setiabudi, saya baru nyadar klo yang di depan NHI itu RM Ma’ Uneh, bukan Ikan Bakar Cianjur (hehehehe, jaoh amaaaat :D)

(dari postingnya Teh Cindy)
Merbabu Bread and Cookies
Karang Mulya 8, Setiabudi – Bandung
022- 2034670
Monday – Saturday 8 am – 5 pm
Delivery: Mang Mahmud 08122094149

%d bloggers like this: