Tag Archives: seafood

Manhattan Fish Market

27 Sep

Selain Fish & Co., tempat favorit saya untuk makan fish & chips adalah Manhattan Fish Market. Kalau boleh membandingkan, saya lebih suka fish & chips di Manhattan karena porsinya pas (ngga terlalu besar), lapisan tepungnya lebih tipis, dan ngga terlalu ngeju (cheesy) seperti Fish & Co. Beberapa teman saya lebih suka versi Fish & Co., jadi urusan fish & chips ini ada kubu-kubunya juga kayak Holycow, hehehe. Menurut saya, harga makanan di Manhattan juga sedikit lebih murah daripada Fish & Co., baik untuk menu single maupun sharing.

Salah satu pilihan menu untuk santap bersama adalah Fried Giant seperti di foto. Pinggan yang disajikan, penuh sesak dengan udang, ikan, jamur, cumi-cumi, dan bawang bombay, yang semuanya dibalur dengan tepung berbumbu sebelum di-deep fry. Ada sedikit sayuran rebus juga, serta kentang goreng sebagai karbohidrat. Pilihan sausnya sekaligus 4: Cajun, Honey Mustard (favorit saya), Smoky Chipotle, dan Tartar & Onion Glory. Semuanya enak. Lapisan tepungnya ngga begitu tebal dan bumbunya pas, jadi tetap menonjolkan rasa dari bahan yang digunakan. Saya pribadi lebih suka kalau karbohidratnya diganti Garlic Herb Rice yang wangi dan berbumbu (tapi sayangnya ngga bisa, hehehe). Secara keseluruhan, cukup memuaskan deh. Oh iya, Manhattan Fish Market punya beberapa cabang di Jakarta dan Medan.

 

Manhattan Fish Market
Ciputra World, Lotte Shopping Avenue, Lt. 4,
Jl. Prof Dr Satrio, Jakarta Selatan

Manhattan Fish Market Menu, Reviews, Photos, Location and Info - Zomato

Papa Tom Yam

9 Aug

Salah satu tempat makan favorit saya kalau lagi main ke Mal Ambasador, Jakarta Selatan. Pilihan menunya ngga banyak, hanya aneka Tom Yam, Nasi Goreng, Bakso Tom Yam, dan Kari Thailand (jarang ada). Tom Yam-nya asem, pedes, dan seger, bikin melek dan keringetan, tapi ngga pengen berhenti. Nasi Goreng Tom Yam-nya juga medok, bumbunya melapisi setiap butir nasi. Tambahan udang, cumi, dan bakso ikannya juga melimpah dan porsinya besar.

Kalau mau makan siang di sini, sebaiknya datang sekitar jam 11:30, karena menjelang jam 12 akan antri panjang. Atau sekalian datangnya setelah jam 1. Posisi kios di dekat resto Hoka-Hoka Bento, lalu masuk ke lorong ke arah Yoshinoya. Selain di Mal Ambasador, Papa Tom Yam juga punya cabang di Plaza Semanggi.

 

Papa Tom Yam
Mal Ambasador lt. 4, Jembatan 2,
Jl. Prof Dr Satrio, Kuningan, Jakarta

Papa Tom Yam Menu, Reviews, Photos, Location and Info - Zomato

Menega (Bali)

29 Sep

Menega

Menega adalah restoran favorit saya kalau pengen makan seafood di pantai Jimbaran. Kalau dari sisi pantai, lihat aja mana yang mejanya paling banyak terisi pelanggan, itu pasti Menega. Cuma ya itu kelemahannya, rame terus sampai kadang harus antri. Pernah pada suatu waktu, saya dan rombongan malas menunggu meja kosong di Menega, dan akhirnya makan di resto lain. Ternyata meski harga & rasanya mirip, kami semua merasa bahwa jumlah makanan yg disajikan lebih sedikit daripada yg kami pesan dan bayar. Akhirnya di kesempatan berikutnya saya ke Bali lagi, tentu langsung ke Menega aja. Antri ya antri deh…

Saya biasanya berusaha untuk datang sore hari sekitar jam 5. Pengunjung belum penuh, dan kita bisa menikmati pemandangan pantai sambil menunggu makanan datang. Anak-anak pun senang, bisa bermain pasir atau layang-layang. Matahari tenggelam juga bisa dilihat di sini, dengan hiasan pesawat yang sesekali melintas.

Makan kenyang dengan ikan bakar, cumi goreng, kerang rebus, dan udang biasanya hanya menghabiskan 100rb-150rb per kepala. Waktu tunggu makanan cukup reasonable, sekitar 30 menit-an. Kalau hampir 1 jam dan makanan belum datang, silakan tanya ke waiter sampai mendapat jawaban. Soalnya saya pernah ngalamin udah nunggu lama, eh ternyata pesanan ngga sampai ke dapur.

 

Menega Cafe
Jl. Four Season Resort Pantai Muaya
Jimbaran, Bali

Menega Cafe Menu, Reviews, Photos, Location and Info - Zomato

Bakmi Akoen

24 Jun

WP_20150506_12_48_30_Pro 1

Dulu saya pernah cerita soal Bakmi Ayam Surya, mie goreng favorit keluarga sejak saya masih kecil. Bulan lalu, saat ada promo di salah satu penyedia jasa transportasi, saya iseng memesan mie goreng di RM Akoen. Waktu mienya datang dan saya mulai menyuap, ingatan saya melayang ke Bakmi Ayam Surya, hehehehe.

Secara tekstur sebenarnya ngga mirip sama sekali. Mie Surya lebih gemuk dan cenderung berminyak, sementara Mie Akoen langsing dan kering. Tapi rasa bumbunya, jejak minyaknya, bahkan sedikit aroma smokey dari wajan besar yang digunakan untuk memasak pun mirip.

Seporsi Mie Goreng Akoen kurang lebih 2x piring seperti di foto, sementara Mie Goreng Surya bisa 3 piring. Setelah dipikir-pikir, mungkin itu sebabnya RM Surya menggunakan bungkus kertas minyak beralas daun pisang untuk Mie Goreng yang take away, karena wadah styrofoam ngga akan muat. Ornamen pelengkap seperti aneka daging, bakso, dan telur pun ngga sebanyak Mie Surya. Tapi buat saya sih, Mie Goreng Akoen ini tetap layak untuk dipesan lagi. Terutama kalau lagi kepingin mie goreng yang lebih ringan dan less sinful, hahahaha.

 

RM Akoen
Jl. Prof Joko Sutono No. 11A,
Jakarta Selatan
Telp.: 021-7397439

Click to add a blog post for RM Akoen on Zomato

Fish & Co.: Fish & Chips

8 Jan

 

fish-co

Update: Fish & Co. cabang eX sudah tutup, tapi cabang-cabang lainnya masih ada

Ngga terlalu berlebihan klo diklaim sebagai fish & chips terenak di dunia, karna emang enak. Ikannya lembut banget dengan rasa gurih yg memesona. Adonan pembalurnya juga ok, digoreng kuning keemasan menambah cantik penampilan si fillet ikan. Kentang gorengnya ngga istimewa, tapi saya suka banget bumbu cocolan yg mirip mayones (boleh nambah cocolannya ngga sih?).

Ada beberapa variasi fish n chips ini, masing2 dengan sedikit twist dari yg original. Ngga perlu buka menu deh, klo ke sini wajib makan fish & chipsnya.

 

Fish & Co.
Plaza Indonesia EX
L1 EX – 40
0213917429
http://www.fish-co.com/locations/indonesia

Pondok Makan Pelem Golek (Yogya)

25 Jan
Pondok Makan Pelem Golek

Pondok Makan Pelem Golek

Dari dulu pengen nyobainnya yang namanya Mang Engking, tapi males banget gituh klo musti dibela-belain ke Godean. Jadi pas denger klo dia buka counter di Kaliurang, saya tertarik buat mampir.

Tempatnya biasa aja, kayak food court yang ada area lesehannya. Selain Mang Engking ada juga counter makanan lain tapi saya ngga terlalu minat. Liat-liat menu trus pesen beberapa jenis makanan dan minuman beserta Udang Bakar Madu-nya yang terkenal itu. Klo diliat sepintas sih harganya murah buat ukuran Jakarta, jadi mungkin sedang atau cenderung mahal buat Yogya kali yaaa…

Pas makanannya dateng… twet twewwww… porsinya kecil banget bow :p
Udangnya dipatok 25,000 buat dua tusuk masing-masing isi 4 dengan ukuran udang segede penampang timun (liat gambar). Makanan-makan lain yang saya pesan juga porsinya becanda. Jadi kesimpulannya agak mahal juga yah harganya.

Pas dicoba, wah, biasa bangeeet. Kayaknya ekspektasi saya aja yang terlalu tinggi. Udang Bakar Madu ini ternyata cuma udang yang direndem saus trus dibakar pake olesan madu. Saya ngga nemu rasa yang kompleks atau bikin pengen nambah apalagi ngebungkus buat dibawa ke hotel. Agak unik sih (karna saya blom pernah ngerasain udang yang dimasak begitu), tapi ngga sampe die die must try. Beda jauh lah sama Udang Telur Asin-nya Li Yen *hehehehe, ngga boleh dibandingin ya?*

Kesimpulannya, penonton kecewaaa… 🙂

 

Pondok Makan “Pelem Golek”
Jl. Kaliurang km 6.5 A10
Yogyakarta
(0274) 885 277

Sate Bandeng (Serang)

21 Oct
Sate Bandeng

Sate Bandeng

Sepulang dari perjalanan singkat kami ke Tanjung Lesung, supir bis memutuskan untuk mengambil jalur Pandeglang sebagai rute menuju Jakarta. Karena bosan (baca: ngga bisa lihat pantai lagi :p), saya memilih untuk tidur sepanjang perjalanan. Tiba-tiba saya terbangun akibat hentakan rem bis. Saya longok ke jendela, ternyata kami sudah dekat dari pintu tol Serang dan bis berhenti di pusat penjual oleh-oleh khas Serang.

Saya yang masih setengah mengantuk tidak berminat untuk ikut turun ke bawah bersama anggota rombongan yang lain. Biarlah, urusan membeli oleh-oleh saya serahkan kepada ibunda tercinta.

Selang tidak berapa lama, ibu sudah kembali membawa sekantung belanjaan berisi beberapa ekor ikan yang sudah diolah. Oooh… ini toh yang namanya Sate Bandeng (SB). Judging from the look of it, makanan ini lebih pantas disebut Bandeng Isi atau Bandeng Kodok (memakai logika yang sama dengan Ayam Kodok) daripada SB.

“Kok belinya cuma sedikit Bu?”, saya bertanya.
“Iya, soalnya kata Pak Puh (kakak ibu) rasanya ngga enak. Pak Puh sering dikasih sama tetangganya yang kerja di Serang. Ibu cuma asal beli aja, masa udah jauh-jauh ke sini ngga bawa oleh-oleh.”

Sampai di rumah, karena capek dan kekenyangan akibat makanan yang free-flow sepanjang perjalanan, saya otomatis langsung menuju tempat tidur dan SB-nya sempat terlupakan. Keesokan harinya, saya buru-buru membuka bungkusan yang sudah teronggok semalaman. SB yang saya (maksudnya ibu saya) beli, dikemas dalam plastik transparan dan diberi label “Sate Bandeng” beserta nama produsennya. Sederhana sekali, tanpa alamat maupun nomor telpon, sampai-sampai saya tidak berpikir dua kali untuk membuang kemasannya 🙂

Tampak luar dari SB adalah seperti ikan bandeng yang super gendut, dilapisi oleh kulit tambahan, dan bertotol-totol hitam bekas dipanggang. Bandeng tersebut dijepit oleh dua raut bambu yang selain berfungsi untuk melegitimasi adanya kata “sate” pada “Sate Bandeng” sepertinya juga berfungsi untuk melekatkan isian bandeng dan mencegahnya tumpah keluar dari kulitnya.

Sebelum icip-icip, saya panaskan SB itu sesaat hingga wanginya tercium ke seluruh penjuru rumah. Hmmmm… eeeeenak nih kayaknya… Yang pertama saya cuil adalah kulitnya. Kulit SB ini terdiri dari kulit ikan bandeng yang dilapisi dengan adonan tertentu, kemudian dipanggang. Sepintas lalu, lapisan yang melumuri SB ini berbentuk seperti kulit gorengan (pisang goreng, ubi goreng, tape goreng, dsb) namun lebih tebal dan berwarna kecoklatan. Rasanya manis-gurih dengan kadar pembumbuan yang sedang, dan saya masih mengecap jejak santan dan ketumbar pada bagian kulit ini. Ketika cuilan saya mencapai bagian badan, sensasinya agak mirip dengan bagian kulit. Manis dan gurih sekali, dengan tekstur yang lebih berbutir-butir, akibat pencampuran bandeng giling dan bumbu-bumbu lainnya (ya, santan dan ketumbar juga masih terasa). Sensasi keseluruhan dari makanan ini adalah manis, gurih, dan enaaaaakkkk….

Tidak terasa, lebih dari ½ bagian SB habis saya cuili. Wah, klo tau rasanya seenak ini, saya pasti memaksa ibu untuk beli lebih banyak. Saya dan ibu sama-sama menyalahkan Pak Puh karena nasihatnya yang menyesatkan (hehehhehe…). Sayang sekali, SB tersebut tidak dilengkapi dengan sambel untuk mengakomodasi selera pecinta pedas seperti ibu saya (emangnya Bandeng Prestooooo :D).

P.S.: Oh iya, saya baru tahu bahwa adonan yang dipakai untuk melumuri SB sebelum dibakar, ternyata sama dengan adonan isi SB :p

%d bloggers like this: