Tag Archives: Chinese

Bakmi Akoen

24 Jun

WP_20150506_12_48_30_Pro 1

Dulu saya pernah cerita soal Bakmi Ayam Surya, mie goreng favorit keluarga sejak saya masih kecil. Bulan lalu, saat ada promo di salah satu penyedia jasa transportasi, saya iseng memesan mie goreng di RM Akoen. Waktu mienya datang dan saya mulai menyuap, ingatan saya melayang ke Bakmi Ayam Surya, hehehehe.

Secara tekstur sebenarnya ngga mirip sama sekali. Mie Surya lebih gemuk dan cenderung berminyak, sementara Mie Akoen langsing dan kering. Tapi rasa bumbunya, jejak minyaknya, bahkan sedikit aroma smokey dari wajan besar yang digunakan untuk memasak pun mirip.

Seporsi Mie Goreng Akoen kurang lebih 2x piring seperti di foto, sementara Mie Goreng Surya bisa 3 piring. Setelah dipikir-pikir, mungkin itu sebabnya RM Surya menggunakan bungkus kertas minyak beralas daun pisang untuk Mie Goreng yang take away, karena wadah styrofoam ngga akan muat. Ornamen pelengkap seperti aneka daging, bakso, dan telur pun ngga sebanyak Mie Surya. Tapi buat saya sih, Mie Goreng Akoen ini tetap layak untuk dipesan lagi. Terutama kalau lagi kepingin mie goreng yang lebih ringan dan less sinful, hahahaha.

 

RM Akoen
Jl. Prof Joko Sutono No. 11A,
Jakarta Selatan
Telp.: 021-7397439

Click to add a blog post for RM Akoen on Zomato

Advertisements

R.M. Surya: Bakmi Ayam

26 Aug

image

Setiap ada anggota keluarga saya yg berulang tahun, Bakmi Ayam RM Surya wajib muncul di meja makan. Saya ingat pertama kali dikenalkan oleh (alm) ibunda, lebih dari 20 tahun yang lalu. Sejak saat itu, peringatan ulang tahun menjadi momen yang dinanti bersama.

Seporsi Bakmi Ayam dihargai 35ribu, lebih mahal dari rata-rata harga di tempat makan sekelasnya. Tapi jangan salah, porsinya bisa mengisi perut 3 orang dewasa dengan nyaman. Harus dibungkus ya, saya pernah coba makan di tempat ternyata porsinya jauh lebih sedikit.

Rasanya? Enak. Banget. Saya belom pernah nemu sodara, teman, dan mantan pacar yg ngga jatuh cinta pas nyobain. Bakmi goreng cap nama pahlawan maupun nama binatang mah lewattt. Oh iya, hasil akhir bakmi ini cenderung berminyak ya, jadi mungkin ngga semua orang cocok.

Gimana cara dapetinnya? RM Surya ini lokasinya deket Kramat Jati Plaza yg ada carrefournya. Klo dari arah Cililitan, sesudah KJP kira-kira 100m-an, kiri jalan. Klo udah liat RS Pusdikkes AD, berarti kelewat. Plangnya kecil dan posisinya di samping, sampai hari ini cat bangunannya masih berwarna hijau muda. RM Surya buka dari pagi sampai malam, tapi mending telepon dulu biar ngga nunggu lama masaknya (bakmi ayam kayaknya menu yg paling populer di sini). Oh iya, ada 1 hari dalam seminggu dia tutup, tapi saya lupa hari apa.

 

Rumah Makan Surya
Jl. Raya Bogor no.54
Kramat Jati, Jakarta Timur
Telp.: (021) 809 6039
 
Click to add a blog post for RM Surya on Zomato

The Duck King

20 Oct

Sudah sejak lama saya mengincar The Duck King (TDK) sebagai tujuan gastronomic adventure saya. Namun, karna beberapa kali ke Plasa Semanggi selalu either:
– bukan pada jam makan
– dalam kondisi *hemat-karna-kebanyakan-belanja-baju-di-centro mode ON*
– perginya bareng temen cewek yang notabene ngga bisa dikilik-kilik buat nraktir 🙂
maka keinginan saya yang satu itu blom pernah kesampaian.

Pada suatu sabtu di bulan ramadhan, saya bersama Buzz (lebih tepatnya: ditemani Buzz :D) berniat browsing baju di Centro. Selama browsing, ngga terasa jarum jam tangan kami berdua udah melewati angka 5. Saya bergegas mengajak Buzz bersiap mencari resto untuk berbuka puasa. Urusan pemilihan resto *tentu saja* Buzz serahkan kepada saya.

Pilihan pertama saya adalah Platinum, resto yang udah ngetop sebagai very good value for money. Tapi, berhubung sudah dekat jam 5.30, seperti yang saya duga, Platinum sudah penuh luar-dalam (luar = pengantri tempat duduk) :p

Ah, mungkin memang nasib saya yang “harus” makan di TDK. Ndilalah juga, TDK yang biasanya susah banget dicari *secara posisinya ngga ngumpul sama resto-resto lain* kok hari itu penunjuk jalannya pops di depan mata saya. Ngga pake nyasar, pusing bin binun, dalam sekejap kami berdua udah berdiri di depan resto.

Klo dari luar bagian samping, pemandangan TDK adalah bebek-bebek panggang berwarna kemerahan yang digantung *jahat ya Buzz? :)*. Tapi di dalamnya OK kok, kursi-kursi nyaman dan meja ukuran besar, plenty of mirrors, lengkap dengan pelayan yang berseliweran dengan seragam berwarna merah & hitam. Interiornya comforting tanpa harus ribet, dan jelas ngga minimalis kayak kebanyakan resto jaman sekarang *huh*

Saya pesan Nasi Hainam TDK, sementara Buzz memilih Nasi Goreng TDK. Untuk minumnya saya pilih jasmine tea serta jus buah campur (duh, lupa namanya), Buzz memesan teh manis hangat dan jus buah juga (lupa juga namanya). Mereka juga nyediain complimentary bubur kacang ijo, dan asinan buah-sayur (pedez) buat ngebatalin puasa.

Ngga berapa lama, minuman kami dateng duluan. Jus buahnya datang di gelas tinggi, dijamin puas deh minumnya. Teh melati saya disajikan lengkap dengan poci gede & gelas keramik, sementara gelas teh manis Buzz guedeeeeeeeee banget, lebih gede dari gelas di Chili’s *klo gini mah ngga free-flow pun ngga rugi deeeh*. Jus saya okeh, harmoni rasanya lucu dan ngga ada buah yang asem. Teh melatinya mirip teh hijau, ngga manis dan di ujung tegukan saya bisa cium aroma melati yang meresap dalam kerongkongan. Light dan ngga annoying. Saya ngga coba minumannya Buzz, tapi tampaknya sih dia puas.

Selanjutnya main course, nasi hainam buat saya dan nasi goreng buat Buzz. Nasi hainam saya predictable, dengan beberapa potong daging bebek panggang di sisinya. Kulit bebeknya krispi dan meresap bumbunya, tapi lho kok agak amis? Duh, ngga sesuai sama review nih. Di tengah-tengah makan, saya melirik Buzz yang ternyata dalam kondisi wajah kemerahan akibat nasi gorengnya yang terlalu pedas. Saya mengusulkan (baca: memaksa) untuk switch plates, biar saya yang habiskan nasi goreng pedas itu sementara Buzz makan nasi hainam saya. Nasi gorengnya enaaak, klo buat saya mah pedesnya pas, sedikit di atas rata-rata tapi masih tolerable. Dikasih potongan cengek (yang ini saya hindari), irisan bebek, sayur2an potong, dengan bumbu medok kayak nasi goreng jawa. Sayang, selera makan Buzz udah hilang, jadi dia ngga habisin makanan (saya), malah ngabisin teh manis sejerigen yang tadi udah saya ceritain :p

Total kerusakannya saya ngga tau, karna bon langsung diambil alih sama Buzz *he is such a gentleman :D*, tapi prediksi saya sih sekitar 150an deh. Saya pribadi puas makan di sini, karna meski harga makanannya sedikit di atas standar (main course mulai dari 30 ribuan, minum 20 ribuan, excluding taxes), tapi porsinya yang nendang dan rasa yang OK bikin ngga kecewa deh. Kecuali bebeknya yang anomali 😦 Next time klo ke sini, ngga boleh lupa tanya kadar kepedasan makanannya, soalnya di menu ngga ada gambar cabenya 😀

The Duck King
Plasa Semanggi lt. 3
Jakarta Pusat

Bakmi Toko Tiga

20 Jul

Hari ini hari terakhir klien kami yang dari Bontang di Jakarta. Sebagai farewell, bu PM ngajak kami semua makan siang bersama. Berhubung masih dalam program menjaga berat badan dan bawa bekal dari rumah, saya (dengan berat hati) menolak ajakan si ibu. Namun, karena tampaknya si ibu ngga mau take “No” for an answer, saya manut saja, sambil merelakan dada ayam tawar + bayam rebus digeser menjadi menu makan malam (bersorak dalam hati :p)

Dari MT Haryono, kami putar balik di UKI dan menuju kawasan TIS Tebet. Kami memutuskan untuk makan di resto Bakmi Toko Tiga, dan kebagian tempat di lt. dasar, agak jauh dari jendela. Interior restonya bergaya food court, ngga ada tema khusus. Clean and simple gitu deh. Atas rekomendasi bu PM, kami memesan Udang Masak Cabe, Sapo Tahu, Kailan Cah Sapi, dan Cumi Goreng Tepung. Tambahannya 3 porsi nasi (bu PM sedang diet, hehehehe), dan minuman untuk kami berempat.

Sapo tahunya buanyak dan enaaaak… Hangat, gurih, dan sedapnya pas. Isinya tofu, jamur, daging, dkk yang generous, dengan kuah yg yummy berats. Kailan Cah Sapi-nya juga lumayan, potongan-potongan dagingnya besar-besar, rasanya pas. Udang Masak Cabe-nya fine, nothing to complain lah. Cumi Goreng Tepung-nya kurang lebih selevel dengan Udang Masak Cabe. Sebelum bubar, bu PM nyeletuk: “Di sini kan specialty-nya Bakmi, kok kita ngga pesan ya? Ya udah deh Mas (ditujukan ke waiter), kami pesan IFUMIE-nya satu”, gubraks! Sejak kapan ifumie = bakmi? 😀

Ifumienya ternyata jagoan, sama kayak Sapo. Porsinya jumbo, dengan penampilan standar ifumie, mie yang digoreng garing lalu disiram sayur-sayuran dan daging. Awalnya saya agak ragu, takut mie-nya mblenyek atau gimana karna kuahnya rada menggenang. Ternyata sama sekali enggak, mie-nya meski lunak, tapi tetep kenyal (apa sih namanya? al dente ya?), ngga bikin eneg. Topping siramnya juga dibumbui dengan pas, bener-bener meng-counter rasa mie yang tawar. Meski perut udah rada kenyang makan nasi, sempat juga saya ngambil ifumie ini beberapa sendok (nggragas mode: ON)

Acara makan kami ditutup dengan bu PM dan pak klien dari Bontang, rebutan ngebayar bon hari itu. Saya dan job leader cuma bisa ketawa-ketawa dari jauh, sambil menuju ke arah parkiran.

Harga makanan di atas antara 25K-40K, tapi rata-rata porsinya cukup untuk 2-3 orang. Harga minumannya juga ngga jauh beda sama standar food court. Overall, menurut saya makanannya enak, harganya terjangkau, tapi ngga cocok buat nongkrong-nongkrong.

 

Bakmi Toko Tiga
Komplek Tebet Indraya Square (TIS)
Jl. MT Haryono, Tebet

 

%d bloggers like this: